Kalau diperhatikan baik-baik, kebanyakan benda yang dipakai atau diperuntukkan bagi cewek itu berwarna pink. Sebaliknya, para cowok banyak menggunakan warna-warna biru untuk piranti dan aksesori yang dipakainya. Kok bisa begitu, ya? Terus, kalau cewek pakai biru atau cowok pakai pink, memangnya nggak boleh?

Sebagai anak muda yang kreatif, harusnya kamu bisa lebih jeli lagi melihat fenomena warna pink dan biru ini. Karena faktanya jauh berbeda dari apa yang mungkin kamu percaya selama ini lho!

pink untuk cewek, biru untuk cowok
sumber: https://theconversation.com/its-not-just-the-toy-aisles-that-teach-children-about-gender-stereotypes-59005

Coba deh kamu perhatikan, kebanyakan bayi sudah mulai menggunakan warna pink dan biru untuk membedakan jenis kelaminnya. Jika bayi itu berjenis kelamin perempuan, maka orangtuanya akan memakaikan baju dan aksesori berwarna pink. Sebaliknya, bayi yang berjenis kelamin laki-laki sebisa mungkin dijauhkan dari warna-warna pink dan menggunakan warna biru untuk pakaian, mainan dan segala macamnya. Kebiasaan ini lalu berlanjut sampai balita, bahkan hingga anak itu beranjak dewasa.

Sampai sekarang pun, kita masih bisa melihat stereotip warna di lingkungan sekitar. Misalnya, fenomena di mana cowok merasa risih saat pakai baju warna pink karena dianggap kecewek-cewekan.

Padahal, awalnya warna pink itu dianggap cocok untuk bayi cowok, sedangkan biru lebih pantas dipakai bayi cewek lho!

awalnya pink untuk cowok dan biru untuk cewek
sumber: https://www.fastcodesign.com/1672751/how-pink-and-blue-became-gender-specific

Awalnya, bayi-bayi pada tahun 1800-an memakai baju putih yang dianggap praktis. Kemudian warna pastel yang didominasi pink dan biru mulai muncul. Hingga pada tahun 1918, sebuah publikasi perdagangan yang dikeluarkan oleh Earnshaw’s Infants’ Department menyarankan bahwa warna pink untuk bayi laki-laki karena berasal dari warna merah yang menyolok dan kuat, sedangkan bayi perempuan menggunakan warna biru yang lebih lembut dan cantik.

Tradisi tersebut berubah di akhir perang dunia II karena terinspirasi seorang pekerja perempuan yang jadi ikon pada masa itu

We can do it
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/We_Can_Do_It!

Kalau kamu melihat poster seorang wanita berbaju biru dan berbandana merah polkadot yang menunjukkan lengannya, dialah Rosie the Riveter. Rosie adalah ikon budaya pada perang dunia II. Ia bekerja di pabrik dan galangan kapal. Nah, ketika Rosie bekerja di pabrik, ia selalu mengenakan baju berwarna biru. Namun ketika berada di dapur, ia menukar baju birunya yang berlumuran minyak dan oli dengan apron merah muda. Hal ini tertanam kuat dalam kesadaran masyarakat saat itu. Yang kemudian mengartikan warna pink sebagai warna yang lembut dan feminin, sedangkan biru untuk kemaskulinan. Sejak saat itulah, anggapan mengenai warna pink dan biru mulai berubah.

Nah, anggapan ini menjadi semakin kuat sejak perusahaan di Amerika menciptakan tren menggunakan warna pink dan biru untuk strategi pemasaran

dijadikan strategi pemasaran
sumber: https://www.nationalgeographic.com/magazine/2017/01/pink-blue-project-color-gender/

Pada tahun 1980-an, banyak perusahaan retail di Amerika Serikat yang memanfaatkan warna pink dan biru untuk strategi pemasaran. Masyarakat pada waktu itu dijejali dengan promosi-promosi yang menekankan bahwa warna pink adalah untuk cewek dan biru untuk cowok. Mulai dari baju, aksesori, mainan, perabotan, hingga segala macam kebutuhan bayi mulai diterapkan dengan warna pink dan biru sebagai pembedanya.

Di sinilah, warna pink dan biru mulai digunakan sebagai penanda gender atau jenis kelamin, terutama untuk bayi dan anak kecil. Nggak heran deh kalau generasi yang lahir di setelah tahun 80-an masih beranggapan pink itu untuk cewek dan biru itu untuk cowok. Termasuk kamu juga.

Nggak usah terlalu kaku deh, kamu boleh kok punya warna favorit masing-masing. Pink buat cewek dan biru buat cowok itu kuno banget!

bebas pilih warna favoritmu
sumber: http://womenaroundse.sebts.edu/2017/03/parenting-teenager-new-season-new-challenges/

It’s oke lah kalau misalnya banyak bayi atau anak kecil yang sedari dulu sudah dipakaikan atribut pink dan biru sesuai jenis kelaminnya. Toh, namanya juga sudah tradisi dari dulu. Tapi, bukan berarti lantas hal tersebut mengikatmu hingga tua. Apalagi di zaman yang serba kontemporer seperti sekarang ini.

Kalau kamu cowok, nggak harus kok kamu pakai atribut yang semuanya biru. Begitupun cewek, yang nggak harus semua barang-barangnya berwarna pink. Ada banyak warna di dunia ini yang bisa jadi pilihan, nggak cuma me-ji-ku-hi-bi-ni-u yang ada di pelangi saja. Dengan beragam warna tersebut, kamu bisa mengekspresikan karakter yang kamu punya. Jadi, nggak ada lagi kamusnya kalau cowok pakai pink itu tandanya genit.

Sekarang sudah tahu ‘kan sejarahnya stereotip warna pink dan biru? Mulai sekarang, jangan terjebak dengan tradisi itu lagi, ya! Kamu bebas punya warna favorit apa saja kok! Memilih warna favorit nggak harus melihat apa jenis kelaminmu. Stay Expressive!

  • 8.8K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Artikel ini sudah melalui tahap review dr.Fransisca Handy, SpA