Banyak anak muda zaman sekarang yang seakan memandang menikah sebagai jalan keluar dari berbagai masalah hidup. Capek sekolah, nikah. Capek kuliah, nikah. Capek menghadapi persoalan hidup, nikah aja. Konsep singkatnya sesimpel ini: “Menikah = selalu bahagia”.

Padahal menikah nggak semenyenangkan bayangan orang-orang. 4 pasangan ini sudah mengalami sendiri menikah kemudaan sebelum mereka bener-bener siap. Dan mereka menyarankan agar kita nggak kayak mereka. Yuk, simak ceritanya.

  • Masalahmu, masalah dia digabung jadi dobel masalah.. Duh..

“… Aku menikah saat masih kuliah semester 5. Awalnya sih kuanggap hidupku bakal membaik karena ada suami yang menemani, tapi nyatanya nggak juga. Selain masalahku, sekarang ada masalah suami yang juga harus dipikul bersama. Baik itu urusan finansial maupun masalah lainnya. Jadi kayak ada beban tambahan gitu buatku setelah nikah. Setelah 3 bulan menikah aku baru sadar kalau mentalku nggak siap.”

“Tiba-tiba tambah kewajiban ngurus suami saat aku juga kebingungan bikin proposal skripsi. Aku nggak mau dong kuliahku putus, nanggung banget. Akhirnya ya selama sisa kuliah aku harus rela pontang-panting ngurus kuliah dan rumah. Meskipun sampai sekarang pernikahanku masih bertahan, tapi kalau bisa muter waktu, aku bakal milih buat nunda sampai aku benar-benar mikirin semuanya dulu. Karena asal gitu aja soal menikah, 3 tahun pertama pernikahan kujalani dengan banyak mengeluh dan aku hampir  depresi.”

  • Kesiapan finansial itu penting!

“Tapi ya hidup kan kadang nggak sesuai ekspektasi kita.”

“Baru lulus SMA, nggak lanjutin pendidikan, belum dapat kerjaan matang tapi main nikah aja. Akhirnya tiap bulan aku harus menanggung malu minta bantuan orangtua buat memenuhi kebutuhan. Meski memang orangtua nggak masalah, tapi ya sebagai kepala rumah tangga, harga diriku hancur banget. Dari situ aku belajar pentingnya pendidikan buat wujudkan cita-cita. Saat teman-temanku bisa kuliah dan menggapai cita-citanya, aku justru harus dipusingkan mikirin biaya hidup keluarga. Saranku sih, nikah karena cinta itu nggak apa-apa, tapi pikir pakai logika juga. Biar kamu nggak ngalamin yang kurasakan.”

  • Terlihat bahagia di luar, tapi remuk redam di dalam

“Usiaku masih 19 saat aku menikah dan di usia segitu mentalku belum siap buat jadi seorang istri. Awalnya sih aku ngejalanin pernikahan dengan seneng-seneng aja. Wong aku dan suami udah saling kenal sebelumnya, tapi ya memang kami sebenarnya belum siap buat lanjut ke jenjang pernikahan. Cuma orangtua, keluarga dan tetangga ini yang terus nuntut kami buat menikah. Akhirnya ya kami memutuskan“yawes lah nikah aja daripada jadi omongan mulu”.”

“Sayangnya, keputusan kami menyerah pada tuntutan orang-orang bikin kami nyesel. Iya sih hubungan kami terlihat bahagia, tapi saat berdua doang rasanya nyesek banget dalam dada. Nyesel gitu memutuskan nikah semuda ini. Apalagi pas liat teman-teman masih bisa main-main dan sukses mewujudkan mimpi, sementara di usia yang sama kami sudah harus ribet mikirin biaya hidup dan masa depan anak. Kebebasan kami terenggut gara-gara keputusan sembrono.”

 

 

Yah, meski banyak postingan-postingan pasangan bahagia di Instagram, menikah itu nggak segampang yang terlihat lho. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum kamu berani melangkah ke jenjang pernikahan. Menikah itu bukan perkara main-main. Memutuskan menikah berarti kamu juga harus siap dengan segalanya.

Karena itu penting banget menunggu sampai kamu benar-benar siap. Mulai dari usia yang matang,dan siap mental, nggak ada tanggungan pendidikan sampai urusan finansial yang udah settle.  Jadi, persiapkan dengan matang dulu ya sebelum berani bilang “yok nikah” ke pasangan ~

 

  • 10.7K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Artikel ini sudah melalui tahap review dr.Fransisca Handy, SpA