Dulu, bullying atau perundungan itu cuma sebatas kekerasan fisik atau sengaja ngajakin orang lain buat ngucilin seseorang di sekolah. Tapi di era media sosial, bullying pun berkembang dalam bentuk digital, yaitu cyberbullying. Sekarang, bully online ini nggak perlu ketemu, main fisik, ataupun pukul-pukulan. Hanya perlu paket data dan tulisan atau gambar, seseorang bisa jadi seorang tukang bully ataupun yang korban bully di media sosial.

Bentuk dari bully online ini bisa macem-macem. Misalnya berkomentar “Ih, gendut banget sih!” di kolom komentar postingan teman. Bisa juga berbentuk makian-makian kasar dan sebutan yang nggak sopan, atau menyebar informasi privat seseorang dengan tujuan mempermalukan atau menekan seseorang. Hal-hal semacam ini nggak hanya bikin kesal, tapi juga membuat rasa percaya diri drop, stres, sampai depresi.

Bully online bisa menimpa siapa aja. Tapi kalau kamu menjadi korban bully, ingatlah satu hal: yang bully kamu itu nggak jauh lebih baik dari kamu kok. Karena ada alasan seseorang melakukan bully online. Ini beberapa di antaranya.

Tukang bully biasanya punya masalah, dan menghadapinya dengan cara yang salah

Salah satu penyebab seseorang membully adalah trauma. Bisa jadi di dunia nyata, dia sedang menghadapi masalah atau kejadian yang menimbulkan rasa sedih. Kehilangan orang terdekat misalnya. Nah, setiap orang punya cara sendiri untuk mengatasi kesedihan ini. Ada yang menggunakan hal-hal positif seperti main sama teman atau ikut komunitas. Tapi ada juga yang menyalurkan kesedihan dengan hal-hal negatif, seperti mabuk-mabukan, pakai narkoba, dan membully orang di media sosial.

Yang nge-bully itu sebenernya punya perasaan pengen diterima di lingkungannya..

Kadang-kadang seseorang membully hanya untuk sebuah status. Supaya bisa masuk ke geng yang populer, maka harus menunjukkan superioritasnya dengan cara membully orang lain. Karena yang lain membully, maka dia pun merasa harus membully supaya bisa dianggap sepaham. Pressure semacam ini yang bikin dia akhirnya melakukan cyber bully, jadi bukannya cari cara positif untuk diperhatiin, mereka malah pilih ngebully orang yang dipikirnya lebih lemah. Seringkali malah mereka ngebully yang sebenernya mereka jeles.

Ada juga yang membully karena caper dan haus kasih sayang

Jangan keburu berpikir hidup seorang tukang bully itu sudah sempurna. Ada juga lho yang membully orang lain hanya untuk mencari perhatian alias caper. Orang-orang seperti ini biasanya kurang mendapatkan kasih sayang ataupun perhatian dari orang-orang terdekatnya. Rasa kesepian dan tersisih ini membuatnya merasa perlu cari hiburan. Alih-alih mencari hiburan yang positif, mereka justru menghibur diri dengan membully orang lain.

Nggak usah baper kalau dikatan “jelek”, “gendut”, atau “ngaca dong!”. Kalimat-kalimat itu memang menyakitkan, tapi yang ngatain kamu begitu juga nggak selalu lebih oke dari kamu kok. Terkadang, orang membully orang lain karena dia punya rasa percaya diri yang rendah, jadinya ya dia ngejatuhin kamu. Atau bisa karena memang orang yang ngejek kamu ini nggak tahu soal adab dan mengira bullying itu sah-sah aja.

 

Itulah beberapa hal yang mendorong seseorang melakukan cyber bully. Bukan semata karena dia sudah sangat sempurna dan korban bully-nya lebih lemah. Tapi apa pun alasannya, cyber bully bisa sangat melukai lho. Tolong deh, sebelum berkomentar sesuatu, coba aja bayangin gimana kalau komentar itu ditujukan buat kamu. Kalau kamu ngerasa sakit hati atau nggak nyaman, ya jangan ucapkan itu pada orang lain. Termasuk yang bentuknya cuma sekadar komentar di media sosial.

Apalagi sekarang sudah ada UU ITE yang bisa meringkus para pelaku cyber bully ini. Karena meski saat ini era demokrasi, bukan berarti kita bebas mencemooh, menghina, memaki, dan menekan orang lain lewat komentar di media sosial. Jadi jangan asal komentar menghina ya~

  • 1.1K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya