Bisa dibilang perasaanku ke dia bermula dari ’ciye-ciye’ yang diucap oleh teman-teman sekelas. Padahal dulunya biasa aja, tapi karena ‘ciye-ciye’ itu aku jadi ngerasa agak gimana gitu sama dia. Sejujurnya aku masih ragu. Apa iya ini yang namanya jatuh cinta? Atau jangan-jangan cuma sekadar perasaan sesaat aja?

Sudah lebih dari beberapa minggu aku mencoba menahan dan memendamnya sendiri. Tapi aku nggak kuat memendamnya lebih lama lagi. Kuputuskan untuk mencari tempat bercerita. Kalau dapat solusi sih syukur, tapi kalau nggak ya nggak papa. Niatku cuma buat melegakan perasaan aja.

Pertanyaan selanjutnya adalah mencari tempat curhat. Aku nggak mau dong ke orang sembarangan. Aku perlu tahu bahwa tempat curhatku bisa kupercaya dan mengerti aku. Setelah menimbang plus-minus, akhirnya mulai yakin. Bahwa curhat sama orangtua adalah yang terbaik untuk saat ini. Untungnya aku nggak salah. Berawal dari curhat ke orangtua, benefit ini sudah benar-benar kurasa.

Bikin aku mengenal orangtua lebih dekat

Awalnya aku ragu buat curhat sama orangtua. Sebelum curhat aja sudah banyak bayangan ketakutan yang muncul di kepala. Takut dihakimi, takut dimarahi sampai takut dituduh yang nggak-nggak. Tapi ternyata semua itu terbantahkan.

Iya sih awalnya memang Ayah-Ibu kayak menginterogasiku dengan berbagai pertanyaan. Tapi lama-lama obrolannya jadi mengalir gitu aja. Aku jadi paham perspektif orangtua soal kenapa mereka sebegitu ketat padaku. Ternyata semua demi melindungiku. Ah, jadi ngerasa bersalah sudah pernah berpikir macam-macam soal Ayah dan Ibu.

Orangtua jadi lebih ngertiin aku

Selain itu, mencoba untuk ngobrol sama orangtua soal hubungan ini juga membuka cakrawala baru buat orangtuaku. Bermula dari obrolan soal orang yang kusuka, akhirnya semua uneg-uneg yang ada di kepalaku bisa tercurahkan semua.

Topik soal hubungan ini jadi bahasan “personal” pembuka. Selepas itu orangtua jadi lebih perhatian sama aku. Menanyakan gimana perasaanku sampai rutin jadi teman curhatku. Alhasil sekarang nggak ada masalahku yang nggak mereka tahu. Baik itu urusan pelajaran, teman, orang yang kusuka, sampai soal sifat orangtua yang kubenci semuanya mereka sudah tahu.

Lebih plong saat curhat tanpa perlu jaim

Mungkin memang aku punya trust issues sama orang. Takut aja gitu. Kan aku nggak tahu apa yang mereka pikirkan. Siapa tahu setelah curhat ke mereka ternyata curhatanku dibocorin kan. Karenanya aku jadi jaim kalau ngobrol sama orang. Tapi ngobrol sama orangtua bikin aku nggak perlu jaim. Aku tahu banget kalau orangtuaku nggak mungkin membocorkan rahasiaku. Ya toh kalau mereka membocorkannya, nggak mungkin juga bocor ke teman-teman tongkronganku. Plus orangtua benar-benar sudah mengenalku, jadi ya apa yang mau dijaimin coba? Hehe

Solusi yang kudapat terasa lebih ‘ngena’

Sekali lagi pengetahuan orangtuaku akan diriku benar-benar membantu. Mereka sudah tahu karakterku, jadi saran atau solusi yang mereka tawarkan sudah benar-benar mempertimbangkan pola pikirku. Plus Ayah sama Ibu kan sudah kenyang makan asam garam perkara hubungan, jadi ya aku jauh lebih percaya saran mereka daripada memendamnya sendirian. Dan saran mereka memang terbukti ampuh. Ketika sudah kujalani, nggak ada penyesalan di hati.

 

Memang harus diakui sih kalau memulai obrolan bersama orangtua ini challanging banget. Apalagi kalau sedari awal memang nggak begitu terbuka sama orangtua. Tapi percayalah, curhat dan terbuka sama orangtua itu benar-benar bermanfaat. Setidaknya, hal-hal di atas sudah kurasakan. Mungkin kalau kamu yang curhat, manfaatnya bisa tambah banyak.

Kalau masih takut dan belum berani curhat soal asmara ke orangtua, coba aja lihat situasi dengan memancing obrolan pakai topik-topik ringan lainnya dulu. Cari momen yang pas dan tunjukkan kalau kamu bisa dipercaya. Yakin deh, orangtuamu pasti dengan senang hati jadi teman curhatmu nantinya.

  • 12.1K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya