Berita-berita seputar tawuran antar pelajar sudah sering malang melintang di lini masa. Nggak cuma di media konvensional kayak TV dan koran, bahkan di timeline media sosial aja banyak berseliweran berita-berita soal tawuran remaja. Bahkan bagi sebagian murid di sekolah-sekolah tertentu, tawuran udah jadi kayak kegiatan turun-temurun. Pemicunya beragam, mulai dari karena sejarah sekolah yang bermusuhan sampai persoalan rebutan pasangan. 

Padahal tawuran ini punya banyak efek negatif. Selain punya dampak sosial yang buruk dan bikin luka-luka, bahkan dalam beberapa kasus sampai menimbulkan korban jiwa.

Tapi kira-kira gimana ya sudut pandang mereka yang ikut tawuran? Kira-kira apa ya alasan mereka? Kok sampai mau-maunya gitu lho ikutan tawuran remaja yang bahkan bisa mempertaruhkan nyawa? Yuk deh baca artikelnya sampai selesai~

Ingin mendapat pengakuan atas kehebatannya

“Banyak teman-teman yang ikut tawuran karena mereka pengen dapat pengakuan atas kehebatan kami” — Ardi, 18 Tahun

Remaja memang adalah masa pencarian jati diri. Kalau tumbuh di lingkungan positif, kita juga bakal tumbuh ke arah yang positif. Sebaliknya, jika kita punya banyak bad influence, jatuhnya ya kita bakal tumbuh negatif juga. Kita jadi pengen diakui atas hal-hal yang mungkin nampak “keren dan hebat”, tapi sebenarnya itu adalah hal-hal negatif. Salah satu contoh ya tawuran ini.

Faktor dari adanya senioritas pun turut menjadi penyebabnya

“Ya mau gimana, gue nggak mau dong kelihatan cupu di depan adik kelas. Dia macem-macem ya gue sama temen-temen habisin pas pulang sekolah” —  Kiki, 18 Tahun

Faktanya, senioritas jadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja sejak dulu kala. Mulai dari masa sekolah Ayah-Ibu sampai sekarang, faktor senioritas ini masih saja susah dihilangkan. Bahkan senioritas nggak cuma terjadi di lingkungan pendidikan, lingkungan tongkrongan hingga lingkungan pekerjaan. Kalau kita nggak nurut ke senior, ya kita bakal dihajar. Atau kalau nggak nunjukin kehebatan sebagai senior kepada junior kita dalam urusan fisik, ya kita bakal dipandang cemen dan cupu. Ini salah satu pemicu tawuran yang sampai sekarang susah dihilangkan.

Selain itu, lingkar bisnis peredaran senjata tajam, perdukunan, narkoba serta miras juga bisa jadi faktor lain

Kelakuan orang mabok kan emang nggak bisa diprediksi, nah itu yang bisa bikin tawuran” —  Zaki, 18 Tahun

Dalam melaksanakan aksi tawuran, pelajar pastinya membutuhkan senjata tajam. Biasanya, pembuat senjata tajam akan membuatkan sajam sesuai dengan keinginan pemesan. Narkoba dan miras pun menjadi faktor penyebab remaja melancarkan aksinya. Untuk melindungi diri sendiri dari serangan dari luar, nggak sedikit juga remaja yang menggunakan wafaq, jimat yang berisi tulisan-tulisan yang diyakini akan memberikan kekuatan dan baru efektif ketika matahari terbenam. Mungkin hal ini bisa jadi jawaban mengapa saat ini tawuran lebih sering dilakukan ketika dini hari, bukan siang hari. 

Penggunaan tagar di media sosial dapat mempermudah pencarian

“Tawuran antar sekolahku dulu bermula dari saling ejek di akun media sosial. Terus meluas sampai terjadi tawuran antar sekolah” — Idham, 17 Tahun

Media sosial yang digunakan dengan tidak bertanggung jawab memang bisa jadi pemicu kekerasan. Salah satunya seperti kasus yang dialami Idham di atas. Selain itu penggunaan tagar di media sosial pun menjadi salah satu penyebab adanya tawuran. Apalagi pada tagar di atas, terdapat video tawuran yang direkam oleh pelaku sehingga bisa diawasi dan memudahkan aksi tawuran balas dendam di kemudian hari.

 

Mau apapun alasannya terlibat dalam tawuran, yang perlu diingat adalah alasan-alasan itu tetep aja ga worth it jika dibandingkan dengan konsekuensi negatif dari tawuran. Sebenarnya sudah banyak teman-teman kita yang menyadari bahwa tawuran itu dampaknya buruk bagi perkembangan, namun mereka tetap saja sulit untuk melepaskan diri dari dunia tawuran. Nah kalau kamu melihat hal-hal kayak di atas, sebenarnya kamu bisa lho jadi penghalang agar tidak ada tawuran. Meskipun nggak gampang, kamu bisa pelan-pelan menyadarkannya kalau tawuran itu nggak baik, nggak berfaedah dan justru akan menjerumuskannya. Salah satu hal yang bisa dilakukan kepada teman-temanmu yang masih suka tawuran adalah mengajak mereka untuk menggali passion diri. Masih banyak tempat untuk menyalurkan ambisi dan potensi diri di jaman sekarang, dimana remaja bisa terlihat jauh lebih keren dan hebat daripada kalau tawuran. Keberadaan internet pun sebenarnya mendukung remaja di jaman sekarang bisa lebih aktif dan kreatif dalam menyalurkan potensi diri. Atau kamu bisa share artikel Dokter Gen Z soal pengakuan teman-teman yang sudah insyaf dari dunia tawuran remaja karena menyadari dampak negatifnya. 

Selain itu, mengetahui bahwa senioritas dan tradisi sekolah juga mempengaruhi adanya tawuran, kamu bisa berperan dalam memutuskan tradisi toxic ini! Kalau kamu senior (atau nanti akan menjadi senior) di sekolahmu, ajarkan ke adik-adik kelasmu bahwa daripada tawuran, mending fokus menggali potensi diri sendiri. 

 

Semoga nggak ada lagi tawuran-tawuran di kemudian hari ya 🙂

  • 1.1K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya