Biasanya, tingkat keseriusan dalam obrolan bareng teman-teman bisa dilihat dari durasi dan waktu ngobrolnya. Semakin lama durasi obrolan dan semakin malam waktu ngobrolnya, semakin berat pula obrolannya. Waktu itu saya dan teman-teman sudah ngobrol selama 2 jam lebih dan jam dinding sudah menunjuk waktu sekitar 22.15 malam. Kami sudah melalui obrolan dengan topik-topik ringan seperti pertandingan sepak bola klub favorit sampai yang agak berat; “Nantinya kita bakal jadi orang sukses nggak ya?”

Namun sebelum malam selesai, topik obrolan kami benar-benar bikin pusing. Bahkan saking pusingnya sampai sekarang aja masih kepikiran.

“Gimana ya ntar kalau kita udah nikah dan jadi bapak?”

Kenapa pertanyaan itu benar-benar mengusik batin saya?

“The best way to predict the future is to create one”

Buat saya pribadi, memikirkan tentang masa depan itu selalu menyeramkan. Ya gimana nggak seram wong kita nggak mungkin tahu apa yang terjadi di masa depan. Bisa aja hidupku ternyata nggak berjalan mulus ke depannya nanti kan. Tapi hal-hal seram itu bisa diminimalisir dengan persiapan matang. Seperti kata kutipan di atas, kalau kita udah bikin persiapan yang matang dengan tujuan yang jelas, tentu hasil positif sudah hampir pasti kita dapat.

Tapi dalam urusan jadi suami dan ayah ini saya sudah jelas-jelas kalah start dalam hal persiapan. Sejak kecil saya nggak pernah merasa dipersiapkan atau dilatih gimana jadi suami dan ayah yang baik. Bahkan untuk urusan skill yang dibutuhkan dalam berkeluarga aja, harus diakui perempuan lebih punya persiapan daripada cowok.

Perempuan sudah dikenalkan dengan skills penting kayak nabung, nyuci piring, beresin rumah, jaga anak dan banyak skills lainnya sejak dini. Sementara cowok? Jangankan nabung, banyak lho cowok yang nggak diajarkan cara nyuci piring. Padahal kan nyuci piring ini hal sederhana yang harusnya bisa dilakukan setiap orang. Apalagi kalau sudah menikah nanti. Tugas beres-beres itu tugas bersama, tapi kok sedari kecil saya nggak diajari skill-nya.

Padahal kan nantinya kalau menikah baik suami atau istri harus kompak dan saling bantu. Kalau skill sederhana kayak gitu aja cowok nggak dilatih sejak kecil, ya mana bisa bantu-bantu…

Banyak yang bilang kalau nanti pasti bisa aja, “learning by doing” gitu istilahnya

Tiap ngobrolin topik ini sama ayah, teman atau saudara yang sudah menikah, jawabannya selalu sama. “Ya nggak usah dipikirin, ntar juga bisa-bisa sendiri. Learning by doing aja lah. Ntar mengalir kok” seakan jadi jawaban segala pertanyaan seputar jadi suami dan orangtua.

Learning by doing akan sukses ketika kita tahu apa yang harus kita lakukan. Bagi orang-orang yang sudah terlanjur kayak saya sih memang ya mau gimana lagi ya, tapi masalahnya buat cowok-cowok yang masih kecil ini harus mulai ada didikan skills yang mumpuni.

Dari situ saya merasa perlu untuk membiasakan cowok dengan skills penting itu

“Ngapain sih cowok belajar masak, belajar nyuci baju, belajar masang baju”

Hayoo… Siapa yang juga pernah dengar atau bahkan mengucap kalimat kayak di atas? Faktanya masih banyak orang-orang yang memiliki mindset kayak gitu. Saya pun masih sering menemui teman-teman yang berpikiran kayak gitu. Padahal pola pikir kayak gini yang bikin cowok-cowok saklek dan nggak mau belajar skills yang dibutuhkan untuk membina pernikahan dan keluarga.

Logikanya gini, semisal istri sedang sakit atau sedang pergi, masa iya rumah nggak mau diberesin? Masa iya memilih untuk makan beli mulu karena nggak bisa masak? Masa iya baju dibiarin bau karena nggak tahu caranya nyuci baju? Sebenarnya nggak harus nunggu istri sakit atau pergi. Kan rumah itu ditempati berdua, harusnya ya ada kesadaran untuk turut merawatnya juga. Nah kalau nggak mau belajar skills-nya, gimana mau merawat dengan benar, coba?

“Halah, tapi kan cowok tugasnya ngasi nafkah! Nggak perlu lah beres-beres rumah!”

Eh sebentar, siapa bilang cewek nggak bisa cari nafkah? Kalau soal pendidikan skills cari nafkah, cowok dan cewek sebenarnya punya start yang sama. Goals mau jadi apa nanti kalau dewasa nggak ditentukan sama jenis kelaminnya; hal itu ditentukan oleh individu itu sendiri. Jadi kalau cewek bisa nyari duit dan beres-beres rumah, cowok pun juga harus bisa melakukan keduanya. Bukankah dengan begitu, semua cewek dan cowok bisa menjadi individu yang semakin lengkap dan semakin siap menghadapi segala tantangan kehidupan? Kalau belum bisa melepaskan mindset tersebut, kayaknya tujuan menikah perlu ditunda deh. Daripada nanti ada masalah selama menjalaninya…

  • 5.6K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya