Teman-teman mungkin sudah lama mendengar cerita R. A. Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan. FYI nih, dulu perempuan dianggap nggak penting untuk mendapat pendidikan. Nah, ini salah satu contoh ketidaksetaraan gender nih. Ketidaksetaraan gender dapat didefinisikan sebagai kondisi yang memberikan kesempatan yang berbeda hanya karena perbedaan gender.

Ada lima bentuk ketidaksetaraan gender yang masih ada sampai sekarang. Berikut penjelasannya.

1. Subordinasi: Jadikan aku yang kedua? Bukan, ini namanya dinomorduakan

Harusnya tidak ada yang nomor satu dan nomor dua | Photo by brother’s photo from Pexels

Pandangan gender dapat menimbulkan perlakuan yang menomorduakan perempuan. Contohnya nih, pemimpin masyarakat dianggap hanya pantas diduduki oleh laki-laki, sedangkan perempuan hanya dapat menjadi pemimpin jika berada di kelompok perempuan. Contoh lainnya adalah jika keuangan di sebuah keluarga terbatas, laki-laki lebih cenderung untuk disekolahkan daripada perempuan. 

Faktanya, hampir 1 dari 4 perempuan berusia antara 15 dan 19 tahun di seluruh dunia tidak bekerja dan tidak mendapat akses pendidikan, sementara kondisi yang sama hanya terjadi pada 1 dari 10 anak laki-laki. Di Indonesia sendiri, persentase laki-laki umur 15 tahun ke atas yang menamatkan SMA lebih tinggi (37,70%) dibandingkan perempuan (32,53%). Di sisi lain, persentase perempuan umur 15 tahun ke atas yang tidak menamatkan SD dan tidak/belum pernah bersekolah lebih tinggi (20,74%) dibandingkan laki-laki (15,29%). Kondisi ini mengindikasikan bahwa kualitas SDM perempuan di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Padahal akses ke pendidikan sama-sama penting untuk perempuan dan laki-laki agar dapat memberdayakan diri. Setuju kan?

2. Marginalisasi: Perempuan juga mampu berdaya

Bisa nggak kalau kita sama-sama punya kesempatan? | Photo by JackF from iStock

Marginalisasi pada perempuan banyak terjadi di bidang ekonomi. Mencari pekerjaan jauh lebih sulit bagi perempuan. Anggapan yang ada di masyarakat adalah perempuan bekerja hanya untuk dirinya sendiri atau sebagai nafkah tambahan. 

Berdasarkan data dari International Labour Organization (ILO), saat ini tingkat partisipasi kerja di seluruh dunia pada perempuan mendekati 49% sedangkan pada laki-laki di 75%. Di beberapa negara, perbedaan persentase ini bisa lebih dari 50%. Laki-laki lebih cenderung bekerja mandiri sementara perempuan lebih cenderung membantu di rumah atau bisnis kerabat.

Padahal sebenarnya pekerjaan itu nggak punya gender guys. Seperti artikel Dokter Gen Z satu ini yang menunjukkan kalau perempuan dan laki-laki sama-sama bisa menjadi apa yang mereka mau.

3. Stereotipe negatif: Aku tidak seperti apa yang mereka katakan

Jangan hanya karena aku perempuan, aku jadi salah melulu | Photo by Deagreez from iStock

Banyak sekali ketidakadilan yang bersumber pada pelabelan atau pemberian cap negatif pada perempuan. Contohnya adalah stereotipe pada janda yang dianggap sebagai penggoda. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa perempuan yang pulang malam dianggap ‘nakal’. Bahkan jika terjadi kasus perkosaan, hal yang ditanya pertama kali adalah pakaian perempuan.

Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang percaya jika perempuan yang memakai pakaian terbuka sama saja dengan menempatkan diri pada risiko serangan seksual. Padahal bukan pakaian yang menjadi penyebab pemerkosaan. Buktinya sudah banyak instalasi seni yang menunjukkan bahwa bukan baju terbuka yang perempuan pakai ketika mengalami kekerasan seksual.

4. Beban ganda: Tuntutan ini itu

Gimana kalau kita bagi tugas aja? | Deposit Photos via id.depositphotos.com

Perempuan dianggap harus terampil dan bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah seperti memasak, merawat anak, dan melayani suami. Ketika perempuan juga bekerja, beban pekerjaan domestik pun masih dibebankan pada perempuan.

Statistik menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan 2 hingga 10 kali lebih banyak waktu daripada laki-laki untuk pekerjaan yang tidak berbayar yang dianggap menjadi tanggung jawab perempuan. Padahal pekerjaan rumah itu semestinya menjadi tanggung jawab antara suami istri loh.

5. Kekerasan terhadap perempuan: Melanggar hak

Aku juga manusia | Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk kekerasan yang mengakibatkan penderitaan baik secara fisik maupun psikologis. Kekerasan ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, seksual, dan reproduksi perempuan.

WHO memperkirakan sekitar 1 dari 3 (35%) perempuan di seluruh dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dari pasangan mereka. Sedangkan dalam kurun waktu 12 tahun terakhir kekerasan terhadap perempuan  di Indonesia meningkat sebanyak 792% atau meningkat hampir 8 kali lipat. Tentunya ini melanggar hak perempuan sebagai manusia yang berhak terbebas dari ancaman dan rasa takut.

 

Jadi lebih tahu mengenai bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada perempuan itu langkah awal yang sangat bagus loh! Sekarang kamu dapat mengidentifikasi kejadian-kejadian apa saja yang termasuk dalam ketidakadilan gender. Kita bisa turut menjadi agen perubahan untuk mewujudkan kesetaraan gender dengan peduli terhadap lingkungan kita. Dan yang penting, mulai dari diri sendiri yuk!

 

Sumber:

  • 46
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya