“Lagi-lagi dia upload foto jalan-jalan ke luar negeri. Kapan aku bisa kayak dia, ya…”

Ketika tengah asyik scrolling timeline Instagram, tanpa sadar kalimat itu yang terlintas di pikiranku tadi malam. Dalam postingan itu nampak jelas raut bahagia seorang teman yang tengah jalan-jalan ke Eropa. Padahal sebenarnya postingan itu nggak ada hubungannya sama sekali denganku. Tapi kenapa ya kok rasanya nyesek banget melihat postingan itu?

Rasanya nggak nyaman aja. Karena tiap lihat teman yang sedang berbahagia dengan pencapaiannya, aku merasa kalah. Harusnya ‘kan aku juga turut bahagia, tapi nyatanya nggak bisa. Kayak ada yang berbisik “Kalau orang kayak dia bisa, lo juga harus lebih dari dia!” Nggak cuma sekali dua kali aja hal ini terjadi. Ini yang bikin aku nggak nyaman. Padahal hidup bukan perlombaan, tapi kok aku ngerasa kalah dan kerdil, ya?

Sebenarnya aku percaya kalau kita nggak perlu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kan pada dasarnya aku sadar kalau tiap orang punya jalannya masing-masing, tapi tetap susah untuk nggak berpikiran kayak gitu! Tapi aku bisa apa? Budaya membanding-bandingkan ini sudah berlangsung lama. Sampai-sampai aku tanpa sadar melakukannya walau sebenarnya nggak pengen kayak gitu juga.

 

Meski rasanya nggak enak, kita menganggapnya sebagai kompetisi wajar yang harus bisa dilalui. Akhirnya selama hidup kita terbiasa melakukannya

Sebenarnya membanding-bandingkan diri dengan orang lain itu hal yang normal dan alamiah untuk manusia lakukan. Teori psikologi mengatakan bahwa membandingkan diri dengan orang lain itu adalah salah satu cara seorang individu belajar tentang dunia dan konteks di mana dia hidup. Meski begitu, membanding-bandingkan ini jadi bermasalah ketika kita terlalu banyak melakukannya, atau kita menggantungkan nilai diri kita masing-masing terhadap hasil perbandingan tersebut.

Buktinya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang sering membandingkan diri mereka dengan orang lain, sering juga mengalami perasaan negatif, ketidakpuasan yang mendalam, rasa bersalah, dan penyesalan. Bahkan beberapa bisa menunjukkan tingkah laku destruktif seperti berbohong.

 

Apalagi sekarang dengan adanya media sosial, perasaan ingin membandingkan diri dengan pencapaian orang ini makin terfasilitasi

Dalam lubuk hati terdalam sebenarnya aku pun paham. Bahwa media sosial memang ada sebagai wadah untuk mengeluarkan isi pikiran orang-orang. Termasuk postingan yang berisi bahagia, pencapaian, atau momen-momen istimewa lainnya. Tapi media sosial bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi ada orang yang menggunakan haknya untuk mengunggah postingan bahagia, di sisi lain ada orang lain yang jadi membandingkan dirinya dengan orang lain karena postingan itu (termasuk aku hehe).

Makin sering membuka Instagram, rasanya hatiku jadi makin geregetan untuk membandingkan posisiku dengan orang-orang. Pikiranku jadi makin kacau. Aku jadi merasa seperti remah-remah jika dibandingkan dengan orang-orang yang mengunggah postingan dengan gemerlap kesuksesan. Bawaannya aku jadi ingin seperti mereka, atau bahkan harus lebih dari mereka… Walau cuma di postingan social media.

 

Teman-teman banyak yang bilang “Jangan melulu lihat yang di atas, bandingin sama yang di bawah juga”…

Tujuannya memang baik. Biar aku nggak terus-terusan minder dan jadi lebih bersyukur. Tapi toh itu tidak membantu. Meskipun membandingkan dengan orang yang di bawah bisa membuat kita merasa lebih baik, perasaan itu cenderung bersifat short-term. Setelah beberapa lama dan setelah terekspos postingan orang-orang di media sosial, pikiranku bakal balik lagi membandingkan diri dengan kesuksesan mereka.

Isu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain ini bukan isu hitam-putih yang bisa terjawab dengan mudah. Kalau membandingkan diri dengan orang lain itu mendatangkan motivasi dengan tetap menjaga empati dan pengakuan bahwa setiap individu itu unik, harusnya sih nggak papa dilakukan. Masalahnya aku belum bisa sampai ke level itu!

Makanya hal ini termasuk kebiasaan toxic yang sebenarnya nggak perlu dilakukan, karena tiap individu punya fasenya masing-masing dan nggak perlu dibandingkan.

Sampai sekarang aku masih berusaha untuk menghentikan pikiranku dari membandingkan pencapaianku dengan pencapaian orang lain. Yang bisa kulakukan adalah mencoba fokus ke diriku sendiri dan bagaimana kita bisa menjadi individu yang lebih baik lagi setiap harinya – tidak perlu lebih baik dari si A, si B, si C , atau si D. Aku hanya harus berusaha untuk lebih baik dari diri aku yang kemarin. Sulit memang, tapi aku percaya kalau itu bukan hal yang mustahil.

Bukankah self love itu juga penting? Kalau pikiranku sibuk terus-terusan membandingkan diri dengan orang lain, gimana aku belajar untuk mencintai diri sendiri? Kan mending pikiranku dipakai untuk menentukan masa depanku~

 

  • 8.9K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya