“Ciyeee.. putihan sekarang. Udah gak dekil kayak kamu waktu SD dulu”

“Kok gendutan sekarang? Kamu lebih cantik kalo kurusan loh.. Eh mending kamu coba diet XY deh”

“Nggak mau ah cipika cipiki sama kamu, takut jerawatnya nular”

Seberapa sering kamu mendengar atau mendapatkan perkataan seperti di atas dari lingkungan sekitarmu? Kamunya chill, tapi justru keluarga atau temen yang tiba-tiba komentar dan memicu perdebatan. Belum lagi kalau tiba-tiba dikasih saran yang nggak diminta. Padahal usaha sih udah kali! Masa setiap olahraga atau pake skincare harus diceritain ke orang-orang sih?

Sobat GenZ, skenario-skenario di atas itu bisa dianggap sebagai body shaming. Body shaming adalah suatu bentuk komentar pada penampilan yang mempermalukan diri atau orang lain. Penampilan seseorang dibandingkan dengan standar kecantikan ideal secara destruktif atau merusak. Tindakan seperti ini merupakan salah satu bentuk dari perundungan (bullying) juga lho. 

Satu studi menemukan bahwa sebanyak 44,9% remaja pernah mengalami body shaming setidaknya 1 kali dalam satu tahun terakhir. Hal yang berkontribusi pada pengalaman ini adalah memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih atau kelebihan berat badan. Studi lainnya menunjukkan bahwa bullying karena berat badan mengakibatkan 40–50% remaja berpikir tubuh mereka lebih buruk, merasa sedih dan tertekan. 

Body shaming ada berbagai macam bentuknya | credit: Deposit Photos via id.depositphotos.com

Setidaknya terdapat tiga bentuk body shaming:

  1. Mengkritik penampilan diri dengan membandingkan diri sendiri dengan orang lain
    Body shaming nggak cuma datang dari orang lain. Seseorang bisa melakukan body shaming ke diri sendiri loh. Contohnya, “Ah aku mah apa atuh, aku nggak ada apa-apanya dibanding dia”. “Kamu mah enak badannya cewek banget, nih liat bahu aku kayak pemain bola.”
  2. Mengkritik penampilan orang lain di depan mereka
    Contohnya, “Yakin deh aku nggak akan punya pacar kalau se-chubby kamu”. “Kok pede banget sih padahal nggak cakep-cakep amat”. Wah, kalau ini nih udah termasuk bullying secara verbal yah guys. Termasuk juga kalau ada komentar-komentar semacam ini di media sosial.
  3. Mengkritik penampilan orang lain tanpa sepengetahuan mereka

Pernah tahu ada yang ngomongin kamu di belakang? Atau jangan-jangan, kamu pernah melakukannya? Misalnya, “Lo liat nggak sih baju yang dia pake hari ini? Iyuhh!”. “Seenggaknya kamu nggak kaya dia deh”. Nah, ini juga termasuk body shaming ya.

Berbagai bentuk body shaming di atas mungkin terdengar familiar dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bukan berarti hal itu dibenarkan karena sebenarnya banyak dampak negatifnya.

 

Apa saja dampak body shaming?

Body shaming mampu mempengaruhi citra tubuh (body image) yang selanjutnya dapat berpengaruh pada kondisi mental seseorang. Misalnya, body shaming bisa mendorong seseorang merasakan gejala cemas, malu, tidak percaya diri, ingin marah, rendah diri, dan benci terhadap penampilan diri. Survei yang dilakukan oleh Psychology Today menunjukkan bahwa 56% perempuan yang menjadi partisipan merasa tidak puas dengan penampilan mereka secara keseluruhan, termasuk pada bagian perut (71%), berat badan (66%), pinggul (60%), dan otot (58%). Laki-laki yang menjadi partisipan pun juga menunjukkan ketidakpuasan pada tubuh mereka pada bagian perut (63%), berat badan (52%), otot (45%), penampilan keseluruhan (43%), dan dada (38%).

Body shaming dapat berujung pada gangguan mental seperti depresi karena berpikir bahwa bentuk dan ukuran tubuhnya tidak sesuai standar ideal di masyarakat. Bahkan studi pada remaja berumur 16-19 tahun menunjukkan bahwa ketidakpuasan tubuh memiliki efek langsung dan tidak langsung pada penghargaan diri (self-esteem) dan gangguan makan.

 

Cara menghadapi body shaming

Menemukan kekuatan dari dalam diri | credit: Deposit Photos via id.depositphotos.com

Jika kamu mengalami situasi di atas, kiat-kiat berikut bisa membantu kamu dalam mengatasi body shaming dan perasaan rendah diri terkait kondisi tubuh.

  1. Percaya kamu dapat mencintai tubuhmu apa adanya
    Salah satu faktor terpenting yang menentukan seberapa jauh kamu bisa melangkah adalah rasa percaya. Jika kamu sendiri menyangkal bahwa kamu bisa menerima tubuhmu, tips sebanyak apapun tidak akan menolong kamu.
  2. Temukan hal yang kamu suka tentang tubuhmu
    Paparan dari media dan lingkungan mungkin membuat kita percaya kalau kita tidak sesuai dengan standar kecantikan atau kegantengan yang ada. Tapi coba deh perhatikan hal-hal yang kamu suka dari tubuhmu. Mungkin gaya rambutmu sekarang adalah yang ‘kamu banget’ dan bikin kamu kelihatan lebih fresh. Atau kamu suka bentuk matamu waktu senyum. Hal-hal seperti ini bisa membangun citra tubuh yang positif loh.
  3. Pilah-pilih siapa yang kamu ikuti di media sosial
    Usahakan untuk mengikuti akun-akun yang mendorong penerimaan tubuh dan mencintai diri. Kalau setiap buka timeline penuh dengan kata-kata positif, kita jadi terdorong untuk memikirkan hal yang sama bukan? Positive vibes only!
  4. Kenali inner bully kamu
    Bisa jadi yang selama ini yang melakukan body shaming ke kita adalah diri kita sendiri. Memotivasi diri dengan merendahkan diri itu tidak sehat lho guys. Bisa jadi malah dampak negatifnya lebih besar. Coba deh kamu berdiri di depan cermin. Berterima kasih-lah pada apa yang bisa badanmu lakukan. Coba yuk mulai berbuat baik pada diri kamu sendiri.

Pikiran dan perkataan orang lain berada di luar kontrol kita, termasuk body shaming. Hal yang ada di dalam kontrol kita tentunya adalah diri sendiri. Citra tubuh yang positif akan menjadi dasar untuk kamu menghadapi ujaran body shaming secara bijak. Mulai dari diri sendiri yuk!

 

Sumber:

  • 18
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya