Tingginya kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual dalam sebuah relasi akhir-akhir ini menjadikan topik pembicaraan seputar konsen atau persetujuan seksual mencuat di tengah masyarakat. Lalu sebenarnya persetujuan seksual itu apa sih? Apakah hanya seputar persetujuan antara dua belah pihak sebelum melakukan aktivitas seksual? Atau ada hal lain yang sebenarnya mengiringi kehadiran persetujuan seksual tersebut? Kali ini Dokter GenZ bakal memberi sedikit penjelasan seputar persetujuan seksual untuk memberi gambaran ke Sobat GenZ kalau semua tindakan yang mengarah ke aktivitas seksual harus ada persetujuan seksual. Kata ‘iya’ aja itu nggak cukup untuk menunjukkan persetujuan seksual ketika akan melakukan aktivitas seksual loh.

Tentang persetujuan seksual

Ya adalah ya dan tidak adalah tidak | Photo by Pixabay from Pexels

Yuk samakan persepsi dulu soal definisi persetujuan seksual. Persetujuan seksual atau konsen adalah kesepakatan sukarela, antusias, dan jelas di antara pihak yang akan terlibat dalam aktivitas seksual tertentu. Berikut penjelasannya masing-masing.

1. Jelas 

Perlu pernyataan dan bahasa tubuh yang ‘jelas’ kalau memang kedua belah pihak setuju untuk melakukan aktivitas seksual tersebut. Kadang ada salah persepsi nih, yang mengartikan kalau ‘diam’ berarti dia setuju. Gak gitu cara mainnya yah! Kudu bener-bener ada ucapan dan bahasa tubuh yang jelas. Soalnya sering terjadi nih di kasus pemerkosaan misal, “Ah dia diem aja kok, nggak nolak. Berarti dia juga setuju dan menikmati dong”. Begini ya, bisa saja mereka diam karena takut disakiti dan pengen hal tersebut segera berakhir. Diam tidak sama dengan setuju.

2. Dinamis

Persetujuan seksual ini harus terkait dengan tindakan yang sedang dilakukan. Perlu diingat kalau persetujuan seksual bisa dicabut kapan saja ketika dia berubah pikiran. Contohnya, pacar kamu sekarang setuju buat dipeluk, tapi lima menit kemudian dia udah mulai tidak nyaman dan ingin melepas pelukan. Kamu sebagai pacar seharusnya segera melepaskannya. Oiya, perlu diingat juga kalau misal sekarang setuju bukan berarti ke depannya akan ada persetujuan yang sama. Bisa saja pasangan kamu berubah pikiran dan tiap kali ingin melakukan harus ditanyakan kembali apakah dia mau atau nggak.

3. Sukarela 

Persetujuan seksual ini juga harus diberikan bebas, tanpa adanya paksaan atau sukarela. Tapi beda lagi kalau persetujuan untuk melakukan tindakan seksual ini ditanyakan terus menerus sampai adanya kata “ya”. Kalau itu sih namanya paksaan.

4. Sadar

Setiap orang yang akan memberikan persetujuan seksual harus mampu memberikan persetujuannya secara keseluruhan atau sadar sepenuhnya. Jika seseorang dalam keadaan mabuk, tidur, tidak sadar, berkebutuhan khusus baik mental/fisik, di bawah umur, atau sekiranya dia tidak mampu dan tidak berdaya untuk menyampaikan persetujuan seksual, maka persetujuan seksual tidak bisa terwujud. Itu berarti aktivitas seksual tidak bisa dilakukan. Jadi nggak ada istilah ‘seks dalam keadaan mabuk’. Begitu juga jika aktivitas seksual melibatkan anak di bawah umur dan juga orang dewasa. Itu sih namanya kekerasan seksual, Sobat GenZ. 

Lalu kapan baiknya menanyakan persetujuan seksual?

Ngobrol itu perlu | Photo by Dương Nhân from Pexels

Persetujuan seksual penting untuk ditanyakan sebelum melakukan aktivitas seksual. Membicarakan tentang semua hal yang diinginkan secara terbuka dan menetapkan batasan masing-masing pihak adalah hal yang penting dalam sebuah hubungan. Masing-masing harus memastikan dirinya dan pasangannya dalam keadaan aman dan nyaman saat melakukannya. Diskusi ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kesalahpahaman. Bisa jadi kamu mengira pasangan kamu ingin berhubungan seksual, padahal tidak.

Mungkin bisa canggung sih kalau kita menanyakan hal tersebut sebelum melakukan aktivitas seksual. Tapi percaya deh, yang namanya persetujuan seksual itu perlu dan menjadi hal yang sangat serius. Bukan berarti harus tanda tangan kontrak gitu, Sobat GenZ. Tapi ada nih cara-cara buat menanyakan persetujuan seksual dan tanda kalau pasangan setuju atau tidak setuju baik secara lisan (dengan jelas diucapkan) atau dengan bahasa tubuh.  

Cara menanyakan persetujuan seksual 

Tanya dulu | Photo by cottonbro from Pexels

Ada beberapa contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan ketika meminta persetujuan untuk melakukan aktivitas seksual. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa disesuaikan dengan bagaimana cara kamu berkomunikasi dengan pasangan. Tapi tentunya harus ada unsur jelas, dinamis, sukarela, dan sadar yah. Misalnya: 

  • Boleh nggak aku gandeng tangan kamu?
  • Boleh nggak aku peluk kamu?
  • Kamu nyaman nggak misal aku (sebut aktivitas seksual yang ingin dilakukan)? 
  • Apakah kamu mau berhenti?

Ada beberapa kemungkinan jawaban yang akan kita dapat.

Jawaban secara jelas jika setuju misalnya seperti: “iya”, “tidak apa apa” , “lanjutkan”, “aku mau”, “jangan berhenti”. 

Sedangkan, jawaban yang menunjukkan tidak setuju misalnya seperti : “tidak” , “stop!”, “aku nggak yakin”, “aku nggak nyaman” atau malah mengubah topik pembicaraan. Bahasa tubuh yang menunjukkan ketidaksetujuan biasanya berupa mendorong, menarik diri, menghindari kontak mata, menggelengkan kepala yang menunjukkan “tidak”, diam, tidak merespons secara fisik (hanya berbaring tanpa bergerak), menangis, dan terlihat takut atau sedih.

Yang perlu diingat lagi adalah, meskipun seseorang terlihat menyukai aktivitas seksual yang dilakukan, setidaknya harus ada ucapan secara jelas apakah dia menyetujui atau tidak untuk menghindari kesalahpahaman. Usahakan untuk dapat paket komplit: setuju secara lisan dan juga setuju dengan bahasa tubuhnya. Oke?

 

So, harus mulai dibiasakan nih menanyakan persetujuan seksual kepada pasangan. Mungkin akan terasa aneh pada awalnya. Tapi dalam sebuah hubungan yang sehat seharusnya ada komunikasi yang jelas untuk meminimalisir kesalahpahaman. Dan ingat! Tindakan seksual tanpa persetujuan seksual itu sama dengan kekerasan. Titik.  

 

Referensi : 

  • 2
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya