Catcalling, mendengar kata tersebut pasti campur aduk rasanya. Mulai dari geram, kecewa, sampai takut akan melanda diri jika mendengar kata itu. Catcalling merupakan istilah untuk  panggilan atau siulan iseng dan tidak diinginkan yang dilakukan oleh orang yang nggak dikenal.

Mungkin bagi pelaku, catcalling terasa hanya perbuatan iseng belaka dan nggak berdampak apapun. Lain halnya dengan penyintas, nggak sedikit penyintas yang merasa nggak nyaman bahkan hingga terganggu mental dan kejiwaannya. Sebuah studi penelitian mengungkapkan bentuk pelecehan seperti catcalling bisa menganggu psikologis seseorang, seperti muncul rasa cemas, depresi, merasa tidak aman, dan meningkatnya rasa takut akan diperkosa.

Biasanya yang mendapat perlakuan usil  dan nggak mengenakan gini adalah kaum hawa, apalagi kalau jalan sendirian. Bergerombol aja sering diisengin kok. Tapi ternyata korban catcalling ini nggak cuma cewek aja. Berdasarkan pengamatan #MeToo Study tahun 2019, ada 76% cewek dan 35% cowok di Amerika Serikat yang mengalami kekerasan seksual verbal. Jadi korbannya nggak terbatas cuma cewek doang, ya~

Nah di bawah ini ada beberapa teman speak up, tentang pengalaman mereka jadi korban catcalling.

Amanda 23 tahun dari Cimahi

Photo by Ekrulila from Pexels via www.pexels.com

“Pernah, yang paling diinget  waktu siang-siang digodain ‘jilboobs’gitu sama abang-abang di deket kampus, jilboobskan kesannya nggak banget.  Padahal waktu itu pake bajunya biasa gitu loh nggak yang ketat dan nerawang walaupun pakai kerudung. Asli jadi bete lagi sih kalo diinget-inget”

Karenina, 18 tahun dari Palembang

Photo by Min An from Pexels via www.pexels.com

“Sering banget, apalagi kalo lagi belanja sesuatu di warung, sering disiul-siulin sama abang-abang. Padahal kalo di warung ya pakai baju rumahan gitu lho, bukan baju yang bagus apalagi yang seksi atau mengundang gitu.  Akhirnya karena sering dapet catcalling, setiap liat abang-abang jadi takut sendiri. Padahal nggak semua abang-abang kayak gitu”

Hani, 24 tahun dari Bangka

Photo by Janko Ferlic from Pexels via www.pexels.com

“Walaupun aku udah pakai kerudung panjang dan bajuku nggak pernah ketat dari dulu, tetep aja digodain sama abang-abang. Bedanya bukan disiul-siulin atau gimana, paling ‘assalamualaikum ukhti’ tetep ngegodain sih walaupun berbasis syariah“

Ameera, 25 tahun dari Malang

Photo by Tom Fisk from Pexels via www.pexels.com

“Pernah beberapa kali sih, tapi yang diingat tuh pas lagi di pom bensin, mau ngisi bensin terus ada bapak-bapak yang siul-siulin. Sebenarnya yang bikin risih bukan di bagian waktu disiulin sih, tapi kalimat setelahnya “Hayoo, mau kemana mbak?” Padahal ya baju yang dipakai tertutup semua, jilbab ya lumayan panjang dan pake celana kulot juga. Heran banget bapak-bapak tua lho yang kayak gitu, bukannya tobat huhu. Semenjak digituin, kemana-mana selama di jalan selalu pake masker biar meminimalisir hal tersebut”

 

Beberapa curhatan teman yang pernah dapat perlakuan catcalling di atas menunjukkan bahwa catcalling itu terjadi dan dapat ditemukan di sekitar kita. Seringkali catcalling dihubungkan dengan pakaian yang dikenakan oleh seseorang. Padahal hal tersebut merupakan asumsi yang salah. Camkan, catcalling tidak ada hubungannya sama sekali oleh pakaian yang dikenakan oleh seseorang.

Mirisnya lagi, pelaku catcalling pun bukan hanya anak muda, bapak-bapak yang sudah berumur pun kerap melakukannya. Kalau dipikir-pikir sebenarnya fungsi dipanggil-panggil kayak gitu apa sih? Kenal juga enggak, membuat nyaman pun tidak,

Bagi kalian yang mengalami catcalling, ada beberapa hal yang bisa kalian lakukan. Keluarkan seluruh keberanianmu untuk berbicara lantang untuk menghentikan perbuatannya, seperti ucapkan kalimat “Berhenti, jangan menyentuh saya” atau “Tinggalkan saya sendiri”. Jika mendapatkan perlakuan catcalling di tempat publik, kalian juga bisa mencuri pusat perhatian dengan menunjukkan bahwa kamu sedang dilecehkan. Terakhir, jangan ragu untuk menghubungi pihak berwenang.

Buat pelakunya, daripada melakukan hal unfaedah dan miskin manfaat kayak gitu, lebih baik simpan atau alihkan tenaga serta waktu untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat. Udah nggak jamannya lagi menarik perhatian lawan jenis dengan cara kuno kayak gitu. Sekarang tuh jamannya cari perhatian dengan cara berkarya, tunjukan bakat serta kemampuanmu dalam bidang yang kamu minati. Bye-bye deh catcalling, so last year deh lo~

  • 23
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya