Kayaknya udah nggak kehitung berapa banyak tuduhan “Kamu selingkuh ya?” dilayangkan kepadaku. Pemicunya beragam. Waktu itu pernah aku dituduh selingkuh karena nebengin teman pulang sekolah. Ada juga tuduhan yang melayang karena aku chatting sama seorang teman. Awalnya aku menganggap dia cuma cemburu karena sayang, tapi lama-lama annoying juga karena tuduhannya banyak yang (menurutku) nggak berdasar. Kayak pas aku kerja kelompok atau ketiduran sehingga balas chat-nya lama sampai karena aku nge-like foto temen yang beda sekolah.

Sejujurnya belum banyak yang tahu sih sebenarnya “selingkuh” itu sendiri yang kayak gimana. Permasalahannya kan memang kompleks banget. Ya wajar sih, namanya juga hubungan 2 orang dengan latar belakang yang berbeda dan sifat yang berbeda pula. Aku dan pasangan jadi sulit nemuin titik terangnya. 

Pernah aku mencoba curhat sama teman, dengan harapan dia bisa membantu cari solusinya

“Lah? Gitu doang dianggap selingkuh? Kok bisa sih?”

Kalimat di atas merangkum beberapa pendapat orang-orang terdekatku yang kuajak ngobrol soal masalah ini. Mereka cenderung nggak sepakat kalau apa yang kulakukan (kayak nebengin temen pulang atau nge-like foto orang lain) itu sebagai pengertian selingkuh. Ya kalau gitu doang disebut selingkuh, interaksi sosial yang sejak dini ditanamkan padaku bakal luntur dengan sendirinya dong?

Toh yang kutebengi dan yang fotonya aku like itu teman yang sama-sama kami kenal. Kalau memang aku suka sama dia, ya dari dulu dong aku memilih untuk jadian sama dia….

Tapi di tengah gelombang “kamu nggak selingkuh lah” itu banyak juga yang menyuruhku berkaca

“Perkara hubungan nggak sehitam-putih itu, ya. Coba introspeksi diri dulu aja”

Kalimatnya mungkin terdengar sederhana, tapi setelah kupikir-pikir ternyata ada benarnya juga. Bisa jadi cewekku memang udah lama menunggu balasan chatnya. Makanya dia marah waktu tahu aku bonceng orang lain atau malah main medsos nge-like postingan cewek cakep lain. Atau bisa jadi dia pengen aku lebih jaga image hubungan kami. Takutnya pas aku bonceng cewek dikira orang kami udah putus atau lagi marahan. Hmm… Memang sulit sih ya ngurusin perkara hubungan.

Sewajarnya menyelesaikan masalah, yang terbaik adalah dengan mencoba mendengar dan berbicara

Ya mau gimana lagi, masalah selingkuh memang masih berada di ranah yang abu-abu. Artinya nggak tiap orang punya pengertian yang sama. Jangan tanya sudah berapa kali aku membela diri dan sudah berapa kali dia tetap mempertahankan tuduhan selingkuh itu, argumen-argumen seputar hal itu sudah terlampau sering kami utarakan. Namun setelah mendengarkan masukan dari beberapa orang, aku merasa harus lebih mawas diri. Karena pengertian selingkuh yang bisa berbeda-beda ini, aku jadi paham bahwa aku perlu membicarakannya bersama dengan pasanganku, supaya kita punya persepsi yang sama.

Kucoba untuk mengajak pasanganku untuk bicara berdua. Tentunya aku nyari tempatnya yang asik dan mendukung untuk ngobrol soal hubungan kami. Tapi mungkin salahku juga yang memilih tempat terlampau sepi, sebelum kami sempat ngobrolin perspektif kami soal selingkuh ini, dia lebih dulu nyeletuk “Aku diajak ke tempat kayak gini bukan buat diputusin kan?” yang bikin aku kelabakan jawabnya.

 

Tapi bermula dari situ kami jadi lebih berani bilang jujur soal perasaan masing-masing. Tentunya selain berani bilang, kami juga mulai mencoba untuk berani mendengar dan mengerti perspektif pasangan. Awalnya nggak mudah, percaya deh, cenderung sulit malah. Namun lama-lama kami jadi terbiasa dengan perspektif masing-masing dan jadi lebih mau memaklumi. Dengan mendengarkan, kami juga berhasil menemukan jalan tengah yang bisa menyelesaikan masalah kami ini. Memang harus kompromi sih, tapi bukannya hal itu memang dibutuhkan untuk hubungan sehat? Sekarang? Nggak ada lagi tuduhan selingkuh tak berdasar. Kami jadi lebih mawas diri. Ah seandainya dari dulu kami berani ngobrol serius soal hubungan dan mendengarkan satu sama lain dengan baik, pasti hubungan kami dari dulu jauh dari gangguan~

  • 1.9K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya