Saat ini, jargon ‘cintai diri sendiri’ sudah bukan hal yang asing lagi. Konsep self love dan menghargai diri jadi sering kita temuin di sosial media juga kan? Di artikel sebelumnya, Dokter Gen Z sudah membahas tentang apa sih body positivity dan kenapa hal itu penting dipahami. Nah, pertanyaannya sekarang, gimana caranya menerapkan body positivity tanpa terjerumus ke pamahaman yang salah?

Well, sebelumnya, kita harus bisa mengidentifikasi beberapa persepsi yang keliru soal body positivity. Karena kesalahan dalam memaknai body positivity bisa berujung pada gaya hidup yang nggak sehat. Bahkan banyak yang menuduh body positivity itu menyebabkan obesitas. Ah, emang iya? Ini lho beberapa pemahaman yang perlu diluruskan tentang body positivity.

 

Menerima apa adanya diri sendiri bukan berhenti merawat diri

Harus tetap merawat diri (foto: Maksim Goncharenok/Pexels) via www.pexels.com

Body positivity erat banget kaitannya dengan self love. Dengan memiliki citra tubuh yang positif, kamu akan menerima dan mencintai dirimu apa adanya. Nggak perlu merasa nggak sempurna, karena nggak sempurna itu adalah hal yang biasa.

Nah, sayangnya, hal ini sering disalahartikan sebagai alasan untuk berhenti peduli pada tubuh dan merawat diri. Malas mandi nggak apa-apa, yang penting self love. Malas keramas, malas olahraga, malas hidup sehat, yang penting inilah aku apa adanya. Hayo, siapa yang masih sering mikir gitu?

Padahal, dengan mencintai diri sendiri, seharusnya membuat kita terdorong untuk lebih menjaga tubuh dengan baik. Ibaratnya, kalau sayang sama seseorang, kamu pasti ingin menjaganya dan nggak mau melihatnya terluka, kan? Nah, tubuhmu juga sama. Dengan mencintai dan menerimanya, rasa tanggung jawab untuk bersikap baik serta menjaga tubuh itu semestinya juga muncul.

 

Body positivity adalah upaya memerangi diskriminasi bentuk tubuh, bukan perayaan gaya hidup nggak sehat

Bukan alasan untuk hidup tidak sehat (foto: Amateur Hub/Pexels) via www.pexels.com

Body positivity memang mengajak kita semua untuk menerima dan mencintai diri sendiri bagaimanapun bentuknya. Mau gemuk atau kurus, mau berambut keriting atau lurus, pokoknya hal itu nggak boleh menghalangi kita untuk merasa berharga.

Salah satu wujud dari body positivity movement yang bisa kamu lihat adalah keberadaan manekin-manekin unik di departement store. Dulu manekin untuk memajang sampel baju selalu tinggi dan langsng. Namun, sekarang kamu akan menemukan bentuk manekin yang lebih beragam. Ada yang plus size, ada undersize, ada yang rambutnya keriting, dan ada juga yang botak.

Tujuan dari hal ini adalah melawan diskriminasi bentuk tubuh dan menghentikan standar tubuh ideal yang seringkali menekan seseorang. Jadi, tujuan dari body positivity bukanlah sebagai sebuah pembenaran gaya hidup nggak sehat. Karena pada akhirnya, mau kamu pengin diet dan merawat tubuh atau nggak, body positivity mengajakmu untuk tetap percaya diri dengan bagaimanapun kondisi tubuhmu.

 

Body positivity bukan berarti dilarang mengubah diri, melainkan berhenti membandingkan diri dengan yang lain

Berhenti membandingkan diri dengan orang lain (foto: Andrea Piacquadio/pexels) via www.pexels.com

Punya citra positif sama diri sendiri  bukan berarti melarang kita untuk berubah, lho. Jangan sampai ketika temanmu bilang ingin diet, kamu langsung menuduhnya punya citra negatif ke bentuk tubuh dan nggak sayang pada dirinya sendiri. Atau ketika kamu ingin hidup lebih sehat dengan rajin berolahraga, kamu justru takut dianggap ngoyo pengin kurus dan menyiksa diri sendiri.

Yang nggak boleh dilakukan oleh body positivity itu adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Misalnya, kamu minder karena teman-temanmu sudah bertambah tinggi sementara kamu merasa tubuhmu masih begitu-begitu saja. Karena, kembali ke pemahaman awal, tubuh setiap orang itu berbeda-beda. Perkembangan tubuh setiap remaja juga nggak selalu sama. Jadi, berhenti menjelek-jelekkan tubuhmu sendiri, ya! 😀

 

Bagaimana, sudah lebih jelas bukan mana yang body positivity dan mana yang bukan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya