Siapa sih yang nggak panik ketika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)?

KTD adalah salah satu hal yang sangat nggak pengen dirasakan oleh perempuan remaja. Jangan sampai itu terjadi ke kamu ya, tapi, gimana jadinya kalau temanmu yang mengalaminya dan menceritakan padamu? Selain kaget dan nggak percaya, mungkin kamu juga bingung harus gimana menyikapinya.

Temanmu sedang ada di salah satu fase sulit dalam hidupnya. Sebagai teman yang baik, yang bisa kamu lakukan adalah menjadi support system baginya. Nah beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk membantunya menghadapi hal ini adalah:

1. Jadi Pendengar yang Baik dengan Mendengarkan Ceritanya

Banyak permasalahan yang muncul di pikiran temanmu ketika melihat hasil positif di test pack. Hal rahasia seperti ini biasanya disimpan rapat-rapat. Tapi ternyata kamu jadi salah satu orang yang dipercaya untuk menjaga rahasianya. Tunjukan sikap empati dengan mendengarkan keluh kesahnya. Nggak susah loh untuk jadi pendengar yang baik. Bermodal waktu, kuping, hati dan tangan untuk memeluk jika ia membutuhkan.

Yang perlu diingat, jangan paksa dia untuk ceritain detail-detail yang mungkin belum siap dia ceritain. Selain itu, coba tahan diri untuk jangan kasih saran atau pendapatmu kalau nggak ditanya. Jadilah teman yang hanya mendengar, bertanya mengenai perasaannya, dan bertanya kira-kira bagaimana kamu bisa membantunya. Coba katakan hal-hal seperti “Apa yang kamu rasakan sekarang?” dan “Bagaimana aku bisa membantumu?”.

2. Jangan jadi judgemental

Akan banyak orang yang menghakimi temanmu karena mengalami KTD. Kamu nggak perlu menambah jumlahnya dengan ikut-ikutan komentar. Walaupun mungkin aja pilihan-pilihan temanmu itu nggak sesuai dengan nilai-nilaimu, sadar dan ingat bahwa itu adalah hidup dan tubuh temanmu, sehingga pilihan dan keputusannya ada di dia.

Coba kesampingkan penilaian dirimu sendiri dan tempatkan diri di posisi dia. Kalau kamu ikut komentarin, bayangin deh, temanmu bakal makin tertekan karena ngerasa nggak ada satu orang pun yang mendampingi di masa tersulitnya. Percayalah temanmu nggak butuh komentarmu. Bayangin aja kalau kamu yang ada di posisinya, kamu tentu juga nggak pengen kan dikomentarin kayak gitu~

3. Nggak perlu tanya-tanya terlalu detail kalau dia nggak mau cerita

Kejujurannya untuk menceritakan hal tersebut adalah satu nilai tambah yang bisa kamu apresiasi. Nggak mudah lho untuk menceritakan KTD. Redam rasa kepo berlebihmu untuk masalah kayak gini. Lagipula untuk apa ingin tahu hingga menanyakan terlalu detail, toh kamu juga nggak punya solusi untuk masalah tersebut. Kalau kamu kepo, justru nanti temanmu bakal merasa disudutkan. Biarkan dia cerita dulu. Toh kalau dia ngerasa nyaman dan udah siap, dia juga bakal terbuka cerita semuanya ke kamu.

Cukup berikan respon-respon pendek yang menunjukkan bahwa kamu memperhatikan dan memahami ceritanya, misal dengan menganggukkan kepala, katakan “oh ya”, “aku turut prihatin dengan kondisimu” dan lain sebagainya. Respon-respon pendek akan membuat temanmu lebih nyaman dan mungkin lebih mau terbuka untuk bercerita lebih banyak tanpa kamu minta.

4. Jangan buru-buru ambil keputusan

Waktu temanmu menceritakan kasus KTD-nya, ada kemungkinan bahwa dia berharap solusi darimu. Bisa jadi dia mengharapkanmu untuk memberikan solusi cepat. Kalau memang dia minta pendapat dan solusi darimu, yang perlu diperhatikan adalah bahwa solusi yang terbaik adalah solusi yang mempertimbangkan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang.

Biasanya salah satu keputusan gegabah yang sering diambil saat ada teman yang mengalami KTD adalah menikahkan si cewek. Tujuannya ya biar si cewek mendapat penerimaan dari lingkungan sosial. Selain itu juga biar janin yang lahir nanti bisa mendapat akta kelahiran. Padahal jangan terburu-buru nyaranin menikah dengan ayah biologis janin atau malah mau menikah dengan siapa saja asal si janin ada akte. Akte lahir tetep bisa terbit kok walau dilahirkan di luar pernikahan.

Hmm…. Atau malah dirimu nyaranin langsung akses aborsi. Tentunya aborsi itu  berisiko bagi kesehatan fisik dan psikis temenmu. Selain itu, kalau aborsinya ga dilakukan secara aman, risiko kesehatan fisiknya besar banget.

Untuk menghindari membuat situasinya makin parah, kamu perlu membantu temanmu mengolah informasi-informasi baru ini. Coba bantu dia pikirin apa yang kira-kira terbaik untuknya, keputusan apa yang dia paling nyaman, dan beri tahu dia bahwa kamu akan tetap ada untuk dia apapun pilihannya.. Yang harus kamu ingat adalah keputusan itu sepenuhnya ada di tangan temanmu. Kamu cukup memberikan dukungan dan bantuan yang memang ia butuhkan. Ingat ya, yang menjalani hal tersebut itu temanmu, jadi bisa saja dia punya pilihan lain atas hidupnya sendiri. Apalagi pertimbangannya pasti banyak.

5. Arahkan/ajak konsultasi ke lembaga yang biasa menangani kasus KTD

Waktu temanmu menceritakan kasus KTDnya, secara tidak langsung ia mengharap solusi darimu. Daripada kamu yang awam salah memberi solusi dan malah menjerumuskan. Lebih baik langsung kamu arahkan ia untuk konsultasi dengan lembaga ahli yang biasa menangani masalah KTD. Ada banyak kok lembaga yang bisa kamu tuju. Bisa konsultasi di PKBI atau Rifka Annisa dan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) di kotamu. Biar temanmu bisa mendapat penanganan yang tepat dan nggak merasa bimbang.

 

Kehamilan yang tidak diinginkan bagi sebagian orang akan menjadi hal yang menyeramkan. Namun menurut Budi Wulandari atau yang biasa disapa Mbak Wulan, konselor psikologi Rifka Annisa yang berbasis di Yogyakarta, KTD bukanlah akhir dari segalanya dan menikah bukan satu-satunya pilihan alternatif solusi.

  • 1
    Share

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya