Beberapa minggu terakhir media sosial dihebohkan kasus bullying terhadap Audrey, remaja putri SMP berumur 14 tahun di Pontianak. Praktik bullying dan kekerasan itu katanya melibatkan 12 orang remaja putri dari berbagai sekolah tingkat SMA di Pontianak. Kalau dari laporan yang disampaikan keluarga korban, Audrey nggak hanya mendapatkan bullying fisik, tapi juga secara psikis. Para pelaku dikatakan memukul, menendang, menyeret hingga membenturkan kepala korban ke aspal. Nggak bisa ngebayangin deh rasanya huhuhu.

Perkembangan kasus Audrey via hot.grid.id

Walau memang masih belum ada kepastian mengenai apa kekerasan yang terjadi, satu hal yang bisa disimpulkan: bahwa bullying di kalangan remaja masih marak terjadi di Indonesia dan harus segera dihentikan. Dokter Gen Z pernah bahas jenis-jenis bullying di sini

Sosok Audrey ini cuma salah satu dari sekian banyak korban dari praktik bullying yang masih marak terjadi di Indonesia. Coba deh tengok media sosialmu, masih banyak praktik bully yang bisa ditemui di sana. Dalam kasus Audrey, ia mengalami kekerasan fisik dan psikis karena dikeroyok. Mirisnya, para pelakunya juga sesama anak muda yang seumuran. Nggak habis pikir kan, kenapa sesama teman seumuran sampai setega itu. Emang mereka nggak bayangin apa ya, kalo mereka sendiri yang digituin?

Kasus Audrey menjadi salah satu contoh praktik bullying antar remaja yang masih saja marak terjadi

Kasus bullying masih marak terjadi via www.istockphoto.com

Ternyata kasus bullying itu nggak cuma satu-dua kali aja terjadi. Nggak cuma yang verbal lho ya, ngelabrak dan sampai melakukan kekerasan fisik ternyata marak terjadi di kalangan remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Penyebabnya beragam. Mulai dari yang sering kita anggap sepele kayak rebutan pacar, senggolan pas nonton konser sampai yang kompleks seperti masalah mengejek harga diri dan orangtua.

Dalam kasus Audrey, pelaku dan korban sama-sama perempuan. Kan jadi muncul pertanyaan, “kok bisa sih sesama cewek sampai nge-bully dan menyerang secara fisik kayak gtiu?”

Menurut sebuah study, perempuan lebih sensitif daripada laki-laki terhadap pengucilan sosial, apalagi ketika mereka merasa terancam oleh kemungkinan ditinggalkan.

Banyak faktor yang menyebabkan persaingan perempuan sangat tinggi. Mulai dari perasaan ngerasa kurang puas dalam bidang yang sebenarnya mereka kuasai, kurangnya komunikasi hati ke hati antar anak dan ibu atau bahkan pola asuh yang diterapkan di masyarakat selama ini.

Dari usia muda, kita diajarkan untuk berlomba menjadi yang ‘paling dilihat’. Paling cantik, paling modis, punya body goals yang paling diidamkan dan paling-paling yang lainnya. Sistem peringkat ini selalu melekat di pikiran kita. Nah pas perempuan ketemu seseorang yang kelihatannya memiliki semua itu, sebagian perempuan bisa jadi membenci orang tersebut karena kecemburuan.

Sebenarnya, ada cara untuk mengurangi persaingan antar sesama perempuan

Dimulai dari diri sendiri. Caranya, nggak perlu mengkritik setiap hal kecil yang kita anggap tidak sempurna. Dengan begitu kita belajar mencintai diri sendiri dan melihat keindahan pada diri orang lain juga. Tidak akan pernah ada sosok sempurna di mata masyarakat. Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Balik lagi ke kasus Audrey, seperti yang kamu tahu banyak banget pihak yang mendukung dan mengharapkan kasus tersebut diusut tuntas

Banyak dukungan untuk Audrey via hipwee.com

Biar nggak ada lagi kasus Bully lain di kemudian hari, mulai dari selebritis, para selebgram, pengacara kondang Hotman Paris, bahkan presiden RI, Joko Widodo, memberikan dukungan mereka agar kasus Audrey diusut tuntas. Bukan apa-apa, tujuan mereka mendukung tagar #justiceforAudrey ini biar kejadian serupa nggak terjadi lagi ke depannya.

Namun yang jadi masalah alih-alih mendukung dengan mengawal penyelesaian kasus ini, justru banyak netizen Indonesia yang asal bully pelaku. Padahal kan proses hukum masih berjalan. Ini nih yang juga harus turut dibenahi. Ingat, bahwa dalam artikel aktor bully, peran mereka bisa berubah-ubah.

Jangan lantas karena tersulut emosi terus menyebarkan akun pelaku dan menganggap mereka sehina-hinanya manusia. Karena bullying ini seringkali jadi mata rantai yang tak berkesudahan. Dengan maksud membela korban akhirnya kita malah ikut-ikutan jadi pembully yang sebetulnya sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Eh ini bukan bermaksud untuk membela pelaku ya, pelaku memang sudah mengaku bersalah, namun bukan berarti kita bisa asal menghakimi mereka begitu saja. Biarlah proses hukum berjalan, mari kita kawal. Jangan sampai kita yang tadinya ingin membela korban bully, malah jadi pelaku bully. Karena sering kali bully itu jadi semacam lingkaran setan. A bully B, B kemudian bully C. Karena C dibully, akhirnya C nge-bully D. Begitu seterusnya dan kayak nggak ada ujungnya. Kamu nggak mau kan terjebak dalam dan bahkan memperparah lingkaran setan kayak gitu?

 

Marcelina Melisa, M.Psi Psikolog di TigaGenerasi Brawijaya Healthcare mengatakan bahwa mencegah bullying sebetulnya dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. “Mencegah bullying adalah dengan tidak melakukan hal yang serupa dengan pelakunya sebagai ekspresi dari ketidaksetujuan, melainkan kita dapat menggunakan berbagai cara positif seperti mengajarkan anak cara mempertahankan diri dan berkompetisi secara sehat,” kata Marcelina yang juga praktek di Mutiara Edusensory dan bisa dikontak via Instagram @marcelinamelisa

  • 678
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya