Baru-baru ini viral story seorang yang “mengaku” alumni dari salah satu universitas ternama di Indonesia yang menolak tawaran pekerjaan bergaji 8 juta dari perusahaan lokal. Dia membanggakan kampusnya dan menolak gaji yang cuma “8 juta”, meskipun sebenarnya dia masih baru lulus kuliah.

Hal tersebut jadi kontroversi. Ada yang bilang kalau sah-sah aja seorang lulusan universitas ternama menuntut gaji yang lebih tinggi, meski pun dia masih “freshgrad”. Namun ada juga yang mengatakan kalau tuntutan gaji tinggi tersebut konyol.

Nah tapi sebenarnya seberapa sih ekspektasi gaji anak-anak zaman sekarang? Kebetulan Dokter Gen Z kemarin habis ngobrol bareng teman-teman anak kuliahan nih. Cus deh simak sebenarnya ekspektasi gaji mereka seberapa~

  1. Nisa, Anak Fakultas Ekonomi salah satu Universitas di Malang

  1. Ardian, Kuliah di FISIPOL salah satu kampus ternama di Jogja

  1. Alfi, Anak Teknik di salah satu kampus bergengsi di Surabaya

  1. Brian, Kuliah jurusan IT di salah satu kampus swasta ternama di Jakarta

  1. Lusi, Anak Fakultas MIPA salah satu kampus di Jakarta

 

Sebenarnya ekspektasi tinggi gaji dari beberapa para anak muda tersebut bukan tanpa perhitungan. Alfi dan Brian, misalnya. Mereka memiliki bayangan gaji fresh graduate tinggi karena memang yakin dengan skill mereka (meski belum dibuktikan dengan pengalaman dan track record di dunia kerja). Selain itu mereka meminta gaji 4 – 5 juta karena mereka menghitung kebutuhannya.

“Ada biaya kos, biaya makan, biaya hiburan dan biaya hobi yang harus kupenuhi. Itu nggak murah ya. Kalau gajinya kecil ya mana bisa memenuhi semua kebutuhan,” kata Alfi.

Yang jadi masalah, beberapa yang meminta gaji tinggi itu perhitungannya pakai gaya hidup anak muda “kekinian” dengan hobi nongkrong, jalan-jalan, dan belanja yang berlebihan. Padahal hobi nongkrong, dan jalan-jalan, dan belanja yang berlebihan itu bukan “concern” dan kewajiban perusahaan untuk membayarnya.

Faktanya mengutip data dari BPS, rata-rata besaran gaji fresh graduate di Indonesia bahkan “hanya” beriksar antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2,2 juta. Sementara rata-rata gaji fresh graduate dengan jenis pekerjaan tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan gajinya juga “cuma” sekitar Rp 3,3 juta. Jauh lebih sedikit dibanding 5 juta atau bahkan 8 juta yang ditolak si freshgrad di atas.

 

Nah, jadi sebenarnya oke atau enggak sih nuntut gaji 8 juta kayak si freshgrad itu? Lagi-lagi jawabannya tergantung ya, mau bandingkan dengan siapa; mungkin pembanding yang dia pakai adalah 20.5% freshgrad UI yang gajinya di atas 9 juta berdasarkan hasil riset Career Development Center UI.

Tapi yang pasti, terutama bagi freshgrad, lebih bijak untuk nggak nuntut gaji terlalu tinggi jika memang tujuannya hanya karena ingin “keep up” dengan gaya hidup tertentu yang mungkin nggak realistis. Coba tanyakan ke dirimu; sebenarnya sebagai pengalaman pekerjaan pertama, yang lebih penting itu gaji tinggi supaya bisa pamer gaya hidup di Instagram, atau justru pembelajaran yang bisa didapet dari pekerjaan itu, sih?

Coba dipikir lagi ya, sobat DokterGenZ!

  • 2.4K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya