Kalian tahu nggak, tepat tanggal 1 Desember kemarin adalah momen peringatan Hari AIDS sedunia lho. Mulai ditetapkan oleh WHO sejak 1 Desember 1988 silam, hari AIDS sedunia waktu itu berfokus untuk mengentaskan stigma bahwa Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) merupakan teman-teman yang berperilaku dan punya gaya hidup negatif kayak wanita penjaja seksual, lelaki hidung belang, hingga pengguna napza jarum suntik.

Sudah 31 tahun berlalu sejak perayaan hari AIDS pertama digagas, namun sayangnya masih banyak orang-orang yang masih percaya mitos dan informasi yang salah soal HIV/AIDS. Padahal internet sudah memberi kita kemudahan untuk mencari informasi.

Kalimat-kalimat seperti “Ih, jauh-jauh deh dari dia. Ntar kita ketularan HIV” dan “Orang dengan HIV/AIDS itu pasti gaya hidupnya nakal” masih sering banget kita temui. Padahal konsep-konsep seperti itu jelas tidak tepat.

Nggak melulu gaya hidup negatif, semua orang punya potensi terinfeksi HIV/AIDS

Selama ini stereotip mengatakan bahwa Orang dengan HIV/AIDS merupakan orang-orang dengan gaya hidup negatif. HIV/AIDS identik dengan wanita gampangan, cowok hidung belang, atau pengguna narkoba (terutama yang disuntik). Padahal kan nggak selamanya Orang dengan HIV/AIDS pasti termasuk golongan tersebut. Bahkan dari data angka pelaporan AIDS, yang terbanyak justru dari golongan Ibu Rumah Tangga lho.

Untuk mengetahui informasi yang benar, sebenarnya bukan masalah yang susah. Kita cuma perlu buka Google dan cari informasi yang tepat dari web-web atau jurnal-jurnal yang terpercaya. Bisa juga untuk merujuk pada informasi dari Kementerian Kesehatan sebagai sumber terpercaya. Di sana kita akan mendapat informasi bahwa penularan AIDS nggak cuma karena gaya hidup seperti hubungan seksual gonta-ganti pasangan dan pengguna napza suntik doang. AIDS bisa juga tersebar karena transfusi darah atau ditularkan selama kehamilan dari Ibu kepada anak.

Hal-hal menyebalkan dan stereotip macam itu dialami oleh Ayu (Nama samaran)

Sebagai orang dengan HIV/AIDS karena tertular dari orangtua, Ayu pernah merasakan berbagai stereotip melekat pada dirinya.

“Aku nggak pernah merasa pernah berbuat salah. Tapi karena AIDS yang kuterima dari orangtua, aku nggak pernah punya kehidupan yang menyenangkan.”

Selalu dibully sama orang-orang, nggak punya teman. Bahkan keluarga sendiri pun banyak yang menolak keberadaanku. Sejak orangtua meninggal,aku dititipkan di rumah nenek. Beliau yang merawatku. Kalau nggak ada nenek, entah gimana lagi hidupku.

Robi (Nama samaran) juga menjadi korban stereotip serupa

Gue kena AIDS karena gue yang bodoh. Gue yakin gue bersih, makanya gue menolak pakai kondom. Sialnya, gue nggak tahu kalau pasangan gue pengidap AIDS. Menurut pengakuannya, dia nggak pernah cerita karena dia juga nggak tahu kalau dia kena AIDS dari mantannya. Jelas gue marah lah!

Pas pertama tahu gue kena AIDS, jelas gue hancur. Gue berusaha menutupi fakta itu tapi pada akhirnya semuanya tahu. Teman-teman gue mulai ngejauh. Untungnya keluarga masih support. Gue menyesal dengan kebodohan ini. Kalau bisa memutar waktu, gue pasti nampar diri sendiri yang menolak pakai kondom cuma karena “nggak enak” doang!

 

 

Masih banyak lagi kasus-kasus seperti Ayu dan Robi di sekitar kita, salah satu penyebabnya adalah adanya stereotip/pemahaman mengenai HIV/AIDS yang tidak tepat. Itulah kenapa kita perlu memperingati hari AIDS sedunia ini dengan benar. Sebagai remaja, salah satu cara memperingati hari AIDS sedunia yang bisa kita lakukan adalah dengan belajar informasi yang tepat soal HIV/AIDS. Kita perlu memahami bahwa teman-teman dengan HIV/AIDS ini juga manusia yang butuh dukungan dari kita. Bukannya dijauhi, mereka sebenarnya perlu kita support biar nggak makin jatuh, jauhi virusnya bukan orangnya.

Nah kalau kamu ingin cari informasi seputar HIV/AIDS, kamu bisa lho cek artikel Dokter Gen Z yang membahas soal HIV/AIDS ini. Biar nggak salah informasi~

  • 21
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya