Adanya internet membuat kita merasa seolah-olah semua hal ada di tangan kita. Mendapatkan informasi soal gangguan kesehatan mental pun sekarang bisa kita lakukan dengan mudah. Dari artikel abal-abal hingga penelitian ilmiah, semua bisa kita temukan di internet.  Tidak hanya memberi pengetahuan tentang apa saja gejala dan pengobatannya, tetapi terkadang kita juga bisa menemukan kuesioner atau uji yang bisa menunjukkan apa penyakit kita meskipun itu semua tidak akurat dan tidak valid.

Kemudahan yang kita  mungkin membuat beberapa orang merasa tidak perlu untuk memeriksakan diri pada layanan kesehatan. Mereka lebih memilih untuk melakukan diagnosis mandiri (self diagnosis). Padahal, diagnosis mandiri itu berbahaya lho karena besar kemungkinannya diagnosis kita salah. Yuk simak tiga alasan kenapa diagnosis mandiri itu sebaiknya dihindari!. 

Kamu nggak langsung jadi pakar hanya dari browsing Google

Google belum tentu benar | Photo by Caio from Pexels

Kamu bisa menemukan segala jenis informasi kesehatan mental di internet. Dari nama penyakit, jenis penyakit, gejala, dan bahkan cara pengobatannya. Ketika kamu merasakan sebuah gejala dan mencari apa penyakit yang kamu derita di Google, kamu bisa mendapat jawaban yang sangat beragam. Meskipun Google mampu memberimu berbagai penyakit dengan gejala sama, tetapi Google tidak dapat membantumu menemukan satu jawaban yang pasti. Google tidak bisa membantumu untuk mengerucutkan gejala-gejala tersebut menjadi satu diagnosa pasti.

Seperti halnya mengidentifikasi gejala, Google juga bisa saja memberikan rekomendasi obat apa saja yang bisa menyembuhkan atau meringankan sakit yang kamu rasakan. Tetapi Google tetap tidak bisa membantumu untuk menganalisis apakah suatu obat cocok untuk tubuhmu, berapa lamakah sebuah obat bisa kamu konsumsi agar kamu tidak kecanduan, dan berapakah dosis yang sesuai untukmu.

Susah untuk menilai diri secara objektif

Susah objektif pada diri sendiri | Photo by Ivan Oboleninov from Pexels

Ada saatnya kita tidak dapat mengerti diri kita sendiri apa yang sedang terjadi dalam tubuh kita. Bisa jadi karena kita bias menilai diri sendiri, tidak jujur, hanya fokus pada satu gejala, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kamu mungkin saja merasa nyeri pada tubuhmu adalah nyeri biasa, padahal sebenarnya itu bisa menjadi tanda bahwa kamu memiliki penyakit jantung koroner. Kamu mungkin mencoba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kamu baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Atau ketika kamu merasa sangat cemas, kamu bisa saja menganggap kamu menderita gangguan kecemasan padahal rasa cemasmu mungkin hanya terjadi selama beberapa jam saja. 

Salah diagnosis, salah pengobatan

Jangan sembarang minum obat | Photo by JESHOOTS.com from Pexels

Setelah kamu melakukan diagnosis mandiri, bisa saja kamu lanjut melakukan pengobatan mandiri atau self-medication. Melakukan pengobatan tanpa arahan dan resep dokter adalah hal yang lebih berbahaya daripada self-diagnosis itu sendiri. Bisa jadi kamu mengkonsumsi obat yang salah karena diagnosis mandiri yang salah. Selain itu, kamu bisa saja memiliki sebuah kontraindikasi dimana kamu tidak boleh mengkonsumsi obat tertentu. Beberapa obat mungkin bisa membuatmu alergi dan beberapa obat lain mungkin tidak dapat kamu konsumsi bersamaan obat lain. Terkadang Google tidak menyediakan informasi mengenai apa obat yang cocok dan tidak cocok untukmu. Untuk itulah kamu memerlukan bantuan dokter untuk memberikan pengobatan yang tepat.

 

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan kenapa kamu tidak dianjurkan melakukan diagnosis mandiri? Jika kamu merasakan gejala penyakit lebih baik jika kamu meminta bantuan layanan kesehatan untuk melakukan diagnosis dan menentukan pengobatan mana yang cocok untukmu.

 

Referensi:

 

  • 5
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya