Seiring waktu berjalan, pertemanan yang dialami oleh remaja pun semakin berkembang dan terus bertambah. Ngerasain nggak sih, bahwa dibandingkan dengan ketika masih anak-anak dulu, kita remaja ini seperti mulai jadi emosional, pengen bergabung sama sebuah kelompok pertemanan, dan bahkan sampai mulai jatuh cinta?

Ngomongin jatuh cinta pada masa remaja ini rasanya lucu sih ya. Saya yang dulunya biasa aja sama teman, sekarang jadi kayak malu-malu gitu tiap kali papasan sama dia. Itu baru papasan, waktu dapet undian sekelompok sama dia, saya jadi salah tingkah yang berujung bikin malu diri sendiri. 🙁

Tapi kenapa ya kok perasaan itu bisa berubah begitu cepat? Yang dulunya biasa aja, sekarang jadi geregetan gemes gitu tiap ketemu dia. Hmm… Ketika mulai baca-baca, ketemu deh jawabannya. Kalau penasaran juga, yuk deh simak artikelnya.

Faktor lain adalah gejolak hormon pada remaja

Saat remaja, gejolak perubahan hormon mulai terjadi. Banyak banget hormon yang mulai berkembang di tubuh kita. Hormon-hormon itu juga yang bikin emosi serta fisik kita jadi berubah drastis. Nah dalam kasus jatuh cinta ini, tersangka yang bikin kita merasa jatuh cinta salah satunya adalah si dopamine itu. Tugas dopamine ini adalah menyalurkan sinyal dari syaraf ke otak. Termasuk salah satunya ya sinyal “deg-deg-ser” jatuh cinta ini. Bahkan satu kata “Hai…” dari si dia aja bisa bikin produksi hormon ini jadi meluap. Itu yang bikin kamu jadi girang kayak Baby yang baru aja dibeliin es krim pas disapa doi. Hehe

Perubahan emosional dan psikologis

Pada masa remaja kayak kita, emosi kita lagi dibolak-balik nih.  Ini juga salah satu akibat dari perubahan hormon yang dijelaskan di atas. Mulai dari mood yang mudah berubah sampai jadi lebih berani sama orangtua. Perubahan emosional dan psikologis ini sulit dibendung sehingga perasaan yang muncul seringnya tak tertahankan dan sulit dilogika. Ya salah satunya saat merasa jatuh cinta. Tapi karena perubahan emosional dan psikologis yang masih belum stabil itu kita jadi susah membedakan perasaan sebenarnya. Apa iya beneran jatuh cinta atau sekadar fling sesaat aja.

Standar yang mulai terbentuk

Semakin meluasnya lingkup pergaulan, semakin luas juga lingkar pertemanan kita. Semakin luas lingkar pertemanan, semakin banyak orang-orang baru dengan sifat dan karakter baru yang kita temui. Pertemuan dengan orang-orang baru serta pengalaman baru itu nggak cuma membentuk identitas diri, namun juga ekspektasi dan standar kita soal orang lain. Baik itu stantar yang pengen kita jadikan teman atau bahkan pasangan.

Contoh simpelnya ya standar karakter yang bikin kita nyaman atau sekadar bikin kita kagum. Karena itu pas remaja kita mulai bikin geng dan sebagainya. Kamu pasti nge-geng sama orang-orang yang udah terbukti bikin kamu nyaman dong. Nggak mungkin nge-geng sama orang-orang random gitu. Nah hal ini juga berlaku untuk urusan pacar. Ketika kita sudah menemukan sosok yang sesuai dengan ekspektasi dan standar, apapun ekspektasi dan standarnya, bisa jadi kita akan merasa jatuh cinta sama dia. Jadi nggak heran kalau kita merasa jatuh hati sama orang yang kita kagumi karena mereka udah memenuhi standar dan ekspektasi kita.

 

Hal-hal di atas bisa jadi adalah alasan kenapa kita mulai merasa jatuh cinta saat remaja. Namun karena memang masih remaja, perasaan yang muncul ini bisa jadi masih sekadar perasaan “cinta monyet” belaka. Hal itu nggak negatif kok, karena hal ini memang normal untuk dilewati remaja dan bisa jadi bagian perkembangan yang sehat. Tapi, mengetahui hal ini, saya jadinya lebih hati-hati kalau masalah percinta-cintaan. Saya udah tahu karakteristik remaja yang cenderung terlalu baper dan labil, yang membuatnya jadi nggak bijak ketika ngambil keputusan terkait percintaan. Karena itu ada baiknya kita bicara sama orang lain saat merasa jatuh cinta. Saya sih lebih memilih untuk ngobrolin ini sama orangtua karena mereka yang mengerti saya dan sudah terbukti berpengalaman dalam urusan cinta-cintaan. Daripada salah curhat kan. hehe

  • 21.4K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya