Beberapa hari kemarin jagad media ramai soal pemberitaan tentang kasus asusila yang terjadi di Tasikmalaya. Sepasang suami-istri menyuguhkan tontonan hubungan seks mereka secara langsung kepada anak-anak dengan tarif 5 ribu rupiah.

“Kedua pelaku berhubungan seks di kamar dan ditonton para korban (anak-anak) di jendela kamar pelaku,” tutur Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro, seperti dikutip dari Kompas.

Dari kasus ini jadi timbul pertanyaan deh, “Kok ada ya orang yang mau aktivitas seksual mereka ditonton banyak orang?” Bukannya hal kayak gitu tuh harusnya jadi privasi ya? Tapi kok dalam kasus ini malah dipertontonkan. Alhasil mereka terjerat pasal pornografi, deh…

Salah satu contoh orang-orang yang nggak malu mempertontonkan aktivitas seksual mereka adalah aktor dan aktris film porno

Ya namanya juga pornografi, pasti penggambaran yang ada dalam medianya (mau itu gambar, lukisan, atau video) tentu erotis karena tujuannya memang membangkitkan nafsu. Karena itu adegan hubungan seksualnya kerap ditampilkan secara eksplisit dan para aktor-aktrisnya juga harus nggak malu melakukannya di depan kamera.

Mengutip dari post Tabu.id, ternyata para aktor-aktris pornografi ini menganggap pornografi cuma sebagai ‘pekerjaan’ saja. Itu salah satu alasan kenapa mereka bisa pede dan nggak malu mempertontonkan adegan aktivitas seksual mereka.

Lha tapi kan bekerja dengan mempertontonkan adegan seksual kayak gini ini pasti dicap negatif sama masyarakat. Kok masih saja banyak yang mau dan nggak malu ya?

Sebenarnya banyak lho alasan kenapa ada orang yang mau jadi aktor-aktris film porno…

Seperti yang dijelaskan oleh Tabu.id, sama seperti motivasi untuk pekerjaan lain, bisa jadi alasan masing-masing aktor-aktris yang berkecimpung di industri pornografi sangat personal. Ada dari mereka yang memilih jadi aktor-aktris pornografi karena memang mereka suka berhubungan seksual. Ada juga yang memilihnya karena suka perhatian dari para penontonnya.

Tapi namanya juga “kerja”, salah satu alasan paling umum adalah karena “butuh uang”. Hal tersebut dikuatkan dengan penelitian dari Griffith, Adams, Hart, dan Mitchell pada tahun 2012 yang mengungkapkan bahwa uang jadi motivasi paling umum. Ya gimana lagi, tawaran uang di industri pornografi memang menggiurkan.

Tahun 2015 kemarin Netflix pernah bikin film dokumenter berjudul “Hot Girls Wanted” tentang industri pornografi di Florida, Amerika Serikat. Dalam film dokumenter tersebut, para aktris industri pornografi mengaku bisa dapat bayaran sampai $900 (sekitar 12 juta rupiah) untuk satu film. Banyak juga, ya!!!

Nah untuk kasus di Tasikmalaya ini, motifnya ternyata juga karena himpitan ekonomi

Setelah kabur beberapa hari, kedua pelaku akhirnya tertangkap. Kepada petugas, mereka mengaku nekad mempertontonkan aktivitas seksual mereka kepada anak-anak karena faktor himpitan ekonomi. Hal ini semakin memperkuat penelitian Griffith, Adams, Hart, dan Mitchell tadi yang mengatakan bahwa uang jadi motivasi paling umum.

 

Sebenarnya nggak masalah sih kalau mau cari uang, tapi mbok pakai cara yang lebih bijak. Indonesia kan punya UU Pornografi yang melarang pembuatan konten pornografi, jadi konsekuensi hukumnya bisa berat, lho. Ditambah lagi, aksi pasangan suami-istri di Tasikmalaya ini, jika mengacu ke penelitian sebelumnya, berpotensi menghasilkan konsekuensi negatif bagi anak-anak mereka. Toh uang yang didapat keduanya juga nggak seberapa. Cuma 5 ribu rupiah plus mi instan dan kopi sachet doang. Rasanya kurang worth it kalau melihat konsekuensi hukum yang didapat dan dampak yang bisa ditimbulkan bagi perkembangan anak-anak itu nantinya… 🙁

  • 60
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya