Artis-artis kayak Kylie Jenner, yang udah punya anak di usia 20 tahun, bisa membuat hamil dan punya anak saat muda terlihat kayak sesuatu yang glamor dan seru banget. Nge-post baju mommy-baby yang matching, pake filter puppy yang super lucu di wajah si bayi, belum lagi semua likes dan comments dari netizen yang muji-muji keimutan si bayi. Kayaknya kalau lihat keluarga muda dengan dekbay-nya, bisa jadi iri banget dengan kebahagiaan mereka. Rasanya jadi pengin cepat-cepat punya keluarga dan anak juga.

Tapi apa yang kamu lihat di foto itu nggak menunjukkan semua kenyataannya, lho. Ada banyak hal yang nggak terlihat seperti perjuangan hidup dan mati seorang ibu saat melahirkan, kerepotan terjaga sepanjang malam mengurus bayi, beratnya proses belajar menjadi orangtua, dan juga berbagai pengorbanan yang harus dilakukan orangtua untuk anaknya. Sebelum kamu memutuskan punya anak di bawah usia 21 tahun, coba simak artikel ini dulu.

Katanya sih “daripada nunggu ketuaan nanti jadi susah hamil dan melahirkan”, padahal sih nggak juga

Ini yang sering dikatakan orang-orang. “Jangan nunda-nunda nanti ketuaan jadi susah punya anak”. Faktanya, usia bukan satu-satunya penyebab cepat tidaknya hamil bagi cewek. Selama cewek itu sehat dan belum masuk fase menopause, potensi hamil mah tetap ada.

Remaja yang mengalami kehamilan malah menghadapi risiko darah tinggi karena kehamilan dan anemia yang lebih tinggi, lho!

Menurut dr. Dyana Safitri Velies, SpOG(K), MKes, secara medis, komplikasi yang paling sering terjadi pada kehamilan remaja dikarenakan ukuran panggul yang belum memadai untuk melahirkan sehingga menyulitkan saat persalinan dan menimbulkan komplikasi yang cukup berat. “Ibu remaja juga memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita tekanan darah tinggi atau preeklamsia akibat keracunan kehamilan yang seringkali berkembang menjadi eklamsia atau kejang-kejang dan menyebabkan kematian bagi ibu dan bayi,” kata dokter yang berpraktek di RS Siloam Lippo Village ini.

Remaja cewek di Indonesia, juga kata dokter Dyana, yang mengalami kehamilan di usia muda juga banyak yang mengalami anemia. “Ibu remaja yang hamil dengan anemia dapat membahayakan dirinya dan menghambat pertumbuhan janin yang dikandungnya. Selain itu, ibu remaja masih dalam masa pertumbuhan sehingga tidak hanya membutuhkan energi untuk kehamilannya tapi juga untuk pertumbuhan dirinya sendiri. Bahkan ada sebuah penelitian menyebutkan bahwa cewek akan berhenti tumbuh karena hamil saat masih berada di usia pubertas,” lanjutnya.

Belum lagi potensi kelahiran prematur bayi hingga potensi kelaianan pada bayi

Remaja yang hamil, apalagi yang baru mengetahui kehamilannya cukup telat, cenderung tidak mengakses layanan kesehatan untuk ibu hamil, dan hal tersebut lalu meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah. Kenapa emang, kalo bayi lahir prematur dan berat badan rendah? Jadi gini…

Bayi yang prematur itu kehilangan kesempatan untuk melewati perkembangan dan pertumbuhan yang terjadinya di minggu-minggu akhir kehamilan, dan oleh karena itu, sering mengalami masalah kesehatan karena organ-organ tubuhnya (contoh: organ pernapasan, pencernaan, penglihatan, atau fungsi kognitif) nggak punya waktu yang cukup untuk berkembang secara maksimal.

Berat badan rendah juga diasosiasikan dengan masalah kesehatan, lho. Bayi dengan berat badan rendah (biasanya berat yang kurang dari 2,5 kg) bisa mengalami infeksi dan bahkan masalah jangka panjang kayak gangguan belajar atau perkembangan yang telat/terhambat. Yang lebih mengerikan lagi, bayi-bayi ini juga menghadapi risiko meninggal pada saat tahun pertama yang 20 kali lebih tinggi dari bayi dengan berat badan normal.

Ketidaksiapan mental untuk menjadi ibu memperbesar potensi postpartum depression

Setelah melahirkan, seorang ibu memiliki kemungkinan mengalami gangguan emosi yaitu baby blues dan postpartum depression. Beberapa gejalanya adalah kecemasan dan kepanikan terus menerus, hilangnya kesenangan melakukan hal-hal yang disukai, stres, merasa bersalah, merasa tidak berguna, memiliki pikiran-pikiran menyeramkan, merasa tidak bisa jadi ibu yang baik, penyesalan, kemarahan, bahkan rasa ketakutan saat ditinggalkan berdua dengan sang anak. Faktanya, kebanyakan remaja belum mempunyai keterampilan hidup dan kebiasaan parenting positif yang diperlukan agar seseorang mampu menghadapi stresnya melahirkan dan membesarkan anak. Karena itu, potensi munculnya postpartum depression jadi meningkat. Bagaimana pun menjadi orangtua adalah tanggung jawab yang besar bukan?

 

Oleh karena itu, yang paling penting adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memutuskan untuk hamil. Meski udah nikah, nggak perlu terburu-buru punya anak cuma biar nggak ditanyain “kapan punya anak?” terus. Nanti kalau kamu sudah mengalaminya, tetap stay cool saja. Coba konsultasikan dengan bidan atau dokter untuk mendapatkan layanan kontrasepsi yang sesuai biar kehamilanmu benar-benar sesuai dengan rencana kalian.

Ingat yaa, menikah dan memiliki anak nggak hanya digambarkan dalam satu foto keluarga bahagia di Instagram. Ada segudang tanggung jawab yang harus kamu pikul setiap harinya dan memerlukan pemikiran yang dewasa.

Lagipula menunggu sampai usia yang lebih matang untuk merencanakan pernikahan dan kehamilan, kamu justru punya kesempatan menciptakan situasi yang lebih baik untuk kamu dan si calon dekbay nanti lho. Mulai dari emosi yang lebih matang, finansial yang lebih tertata, hingga kamu yang lebih fokus mengurus “dekbay” karena sudah puas menghabiskan waktu “pacaran” dengan suami/istri. Ya, nggak?

  • 132
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya