Dion punya hobi bereksperimen dengan make up. Dia suka meniru banyak gaya make up di berbagai media sosial seperti Youtube, Instagram, dan Tiktok. Dia sering mengunggah hasil karyanya di akun instagram pribadinya. Selama ini banyak followersnya yang memuji hasil make up nya. Hingga suatu hari, ada salah satu akun tidak dikenal yang mengomentari unggahan terbarunya:

“Apaan sih, kok cowok suka dandan? Cowok beneran nggak tuh?” 

Banyak followers yang membelanya. Namun tetap saja, komentar tersebut menjadi beban pikiran Dion dan menjadikannya tidak lagi semangat menyentuh make up.  

Sobat GenZ adakah yang pernah melihat situasi seperti ini? Komentar-komentar yang menyudutkan gender tertentu muncul di postingan seseorang. FYI, itu termasuk contoh kekerasan berbasis gender online atau KBGO. 

Semakin berkembangnya teknologi semakin memudahkan manusia untuk saling berkomunikasi. Kabar buruknya majunya teknologi ini nggak diimbangi dengan penggunanya yang semakin bijak. Ibarat menyakiti tanpa menyentuh, media sosial memungkinkan terjadinya kekerasan secara online.

Seperti kekerasan pada umumnya, kekerasan secara online bertujuan untuk menyakiti atau melecehkan seseorang dengan media teknologi. Sementara kekerasan berbasis gender online atau KBGO adalah kekerasan yang dilakukan kepada seseorang berdasarkan gender atau seksualitas.

Menyakiti tanpa menyentuh | Photo created by Dragana_Gordic – www.freepik.com

Mau tau seberapa serem realita KBGO ini di masyarakat kita? Pada tahun 2018 ada sekitar 97 kasus KGBO yang dilaporkan ke Komnas Perempuan, sedangkan pada tahun 2019 terjadi kenaikan hingga 300% mencapai 281 kasus. Apalagi tidak bisa dipungkiri jika angka ini seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat ujungnya saja. dan kita nggak tau sebesar apa yang tersembunyi. Delapan jenis kasus KBGO menurut Komnas Perempuan antara lain:

  • pendekatan untuk memperdaya (cyber grooming)
  • pelecehan online (cyber harassment)
  • peretasan (hacking)
  • konten ilegal (illegal content)
  • pelanggaran privasi (infringement of privacy)
  • ancaman distribusi foto/video pribadi(malicious distribution)
  • pencemaran nama baik (online defamation)
  • dan rekrutmen online (online recruitment)

Pencegahan selalu lebih oke

Amankan data-data penting | Photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Dari kedelapan jenis KBGO yang ada, apakah Sobat GenZ pernah melihat atau mengalami kasus seperti hal-hal diatas? Nah, cara-cara ini bisa dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami KBGO.

1. Jangan menyebarkan data pribadi

Banyak kasus KBGO yang terkait dengan data-data pribadi yang disebar dan mengakibatkan orang tidak bertanggungjawab bisa mengintai bahkan menguntit kita. Data-data apa aja sih yang baiknya nggak disebar di sosmed? 

  • Nama. Nama lengkap, termasuk juga nama ayah dan ibu kita. 
  • Nomor identitas pribadi. Nggak hanya nomor KTP atau NIK aja, tapi juga nomor KK, nomor rekening, nomor plat kendaraan, nomor rumah, NPWP, SIM dan nomor kartu kredit.
  • Alamat pribadi. Baik alamat rumah maupun e-mail. Penting untuk membedakan email pribadi dan email pekerjaan. 
  • Kontak personal. Termasuk nomor telepon pribadi dan nomor telepon rumah. Usahakan untuk memisahkan nomor pribadi (hanya orang tertentu yang tahu) dan nomor untuk umum yang bisa diakses semua orang. 
  • Karakteristik personal gambar fotografik, utamanya bagian atas wajah atau bagian lain yang menunjukkan karakteristik yang dapat dikaitkan pada seseorang, sidik jari, tanda tangan, dan tulisan tangan.

2. Berani mengatakan “tidak”

Setelah berusaha melindungi data-data pribadi sedemikian rupa, kita juga harus aktif melindungi data pribadi kita. Ini juga berlaku pada hubungan dengan orang sekitar yah. Misalnya ketika pacar meminta password media sosial, beranikan berkata tidak!

Untuk kamu yang mengalami KBGO

Dokumentasikan dan laporkan | Photo created by kaboompics – www.freepik.com

Apabila dua hal tersebut sudah dilakukan, lalu apa yang bisa dilakukan jika mengalami KBGO? 

1. Dokumentasikan hal yang terjadi dan simpan. 

Ketika merasa ada tanda-tanda KBGO, mulai kumpulkan bukti-buktinya. Misalnya screenshot chat, rekaman telepon, foto, video atau dokumen lainnya. Hal ini bisa menjadi bukti jika kamu memutuskan untuk melaporkan kasus ke pihak berwajib.

2. Menghubungi bantuan

Jika kamu mengalami KBGO, jangan ragu menghubungi bantuan kepada orang yang terpercaya atau lembaga yang dapat mendampingimu. Berikut daftar penyedia layanan pendampingan untuk penyintas

  1. Aduan Konten Kominfo. https://aduankonten.id/ 
  2. Kepolisian RI. https://www.polri.go.id/tentang-satwil
  3. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). [email protected] 
  4. P2TP2A KemenPPPA. https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/view/58 (081317617622 – 082125751234)
  5. Komnas Perempuan. http://bit.ly/PengaduanKomnasPerempuan (021-80305399)
  6. Layanan Sehat Jiwa (SEJIWA). 119 (ext. 8)
  7. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). https://lpsk.go.id/permohonanperlindungan/0_reg
  8. Telepon Pelayanan Sosial Anak (TePSA) KEMENSOS. 1500771 – 081238888002
  9. Awas KBGO SAFENet. https://awaskbgo.id/layanan 
  10. Bullyid. https://bullyid.org/revenge-porn-help-centre/
  11. ECPAT. https://ecpatindonesia.org/laporkan-kasus-esa/
  12. Forum Pengada Layanan. https://fpl.or.id/lembaga-layanan/ https://fpl.or.id/peta-fpl/ 
  13. ICT Watch. [email protected]
  14. Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender. [email protected]
  15. LBH APIK Jakarta. https://www.lbhapik.org/p/lapor.html, 0813 8882 2669
  16. PurpleCode Collective. https://www.instagram.com/purplecode_id 
  17. Yayasan Pulih. http://yayasanpulih.org/. 0811 8436 633. 

 

Nah, itulah hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi risiko dan menghadapi kekerasan gender berbasis online. Semoga bisa membantu ya membuat pengalaman daring Sobat Gen Z lebih nyaman!

 

Referensi: 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya