Kalau baca judul artikelnya, kamu pasti bertanya-tanya. “Toxic Masculinity” itu apa sih?

Sebenarnya makna toxic masculinity atau maskulinitas beracun ini sangat luas. Tapi kalau mau disederhanakan, gampangnya, toxic masculinity ini adalah beberapa cara ekspresi maskulinitas yang sifatnya destruktif, karena menggunakan cara pandang terhadap makna gender laki-laki yang terlalu sempit. Biasanya, cara pandang yang sempit ini menganggap bahwa laki-laki harus mengambil peran yang dominan (atau disebut juga “alpha male”), kuat secara fisik, tidak boleh mengekspresikan perasaan sedih secara terbuka, lihai dalam hal-hal seksual, dan seterusnya. Pasti kamu pernah atau bahkan sering ngelihat ini, kan?

Dampak bagi mereka yang dipandang nggak sesuai dengan standar makna sebagai “laki-laki” ini bisa sangat berbahaya. Ada yang jadi galau, murung, pendiam, jadi denial sama diri sendiri, dan bahkan depresi, karena merasa bahwa dirinya nggak “cukup” atau nggak bisa jadi diri sendiri. Selain itu, toxic masculinity ini juga berkontribusi terhadap kecenderungan laki-laki untuk menjadi agresif dan memiliki sikap negatif terhadap perempuan. Sikap negatif terhadap perempuan ini bentukannya banyak, lho; termasuk kekerasan dan diskriminasi berbasis gender. Jadi, selain berdampak terhadap individu, toxic masculinity juga membentuk pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kita lihat hari ini.

Nah, udah jelas kan bahwa dampak toxic masculinity ini berbahaya. DGZ udah compile dalam list pendek di bawah ini soal kecenderungan-kecenderungan laki-laki yang merupakan bentuk dari toxic masculinity. Perlu diingat, bahwa karena norma masyarakat kita tentang peran gender yang cukup sempit, memang kecenderungan-kecenderungan ini sudah terbentuk sejak lama, dan nggak gampang untuk diubah. Masyarakat sendiri yang membuat laki-laki merasa bahwa dirinya harus seperti yang di bawah ini. Yuk, coba kita kenali apa aja sih bentuk-bentuk toxic masculinity yang sering kita lihat sehari-hari!

Sering ngejek teman cowok yang curhat masalah hubungannya

Sebagai remaja, curhat sama teman itu hal yang biasa. Apalagi kalau yang jadi topik adalah masalah hubungan. Tapi yang sering terjadi ketika laki-laki curhat, apalagi kalau curhat ke sama-sama laki-laki, adalah ejekan dari teman seperti: “Halah, cowok kok galau urusan pacar! Cemen!”. Kesel banget rasanya! Niat curhat biar dapt solusi soal hubunganmu, eh malah dapet ejekan.  Padahal, apa salahnya sih laki-laki curhat? Kan yang butuh didengerin dan dikasih advice nggak cuman perempuan doang?

Langsung emosi dan main tangan pas nggak terima pendapatnya dikritik

Gimana pendapatmu kalau ada teman yang selalu marah-marah tiap kali kamu nggak setuju sama pendapatnya? Ngeselin kan ya orang kayak gitu.

Setiap orang berhak punya pendapat dan berhak untuk menyampaikan pendapatnya, termasuk urusan setuju atau tidak dengan pendapat orang lain. Sayangnya, beberapa laki-laki ngerasa harus menjadi defensif dan menunjukkan bahwa dirinya lebih “berkuasa” ketika dirinya dikritik, karena merasa bahwa ego-nya sebagai laki-laki dicoreng. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan bisa saja salah, dan keduanya sama-sama perlu terbuka untuk belajar dan mendengarkan orang lain. Makanya, kalau kamu laki-laki dan pendapatmu sedang dikritik, jangan langsung marah-marah dan main tangan. Coba berpikir lebih tenang dan bijak. Turunkan ego untuk sejenak mendengarkan pendapat orang lain ya~

Ngatain teman yang nangis

Kalau kata beberapa penelitian, memang perempuan lebih ekspresif secara emosional kalau masalah kegalauan dan kesedihan; tapi cowok kan tetap manusia ya, punya perasaan dan hati. Wajar dong nangis kalau pas perasaan sedang sedih. Tapi faktanya, nggak jarang kita dengar kata-kata seperti “boys don’t cry”.

Cowok merasa malu dan cupu kalau nangis. Padahal, menangis itu respon emosional yang natural banget dan justru sehat jika memang dibutuhkan. Nah, mengetahui ini, sebagai teman, jangan malah ngatain teman yang nangis. Bayangin deh gimana perasaannya. Udah nangis karena sedih, terus diejek pula, hanya karena mereka laki-laki. Jadi makin sedih dan tertekan lah! Lagipula selain itu, kita punya hak apa buat ngatain teman yang sedang nangis? Kita nggak tahu permasalahan apa yang nggak dia ceritakan padamu sampai bikin dia nangis, jadi kita nggak punya hak apa-apa buat ngatain dia!

Ngeledek teman yang berpenampilan rapi

“Eh ngapain lu rambut klimis sama pakai kemeja? Mau ngelamar kerja? Hahaha”

Berpenampilan rapi itu hak semua orang kan. Lagipula nggak ada tuh, aturan sosial buat berpakaian harus kayak gimana. Jalan ke mall pakai kemeja rapi, pomade-an nggak ada yang ngelarang. Ke kampus pakai batik juga boleh. Suka-suka temanmu mau dandan kayak apa. Toh kalau dia berdandan rapi, nggak merugikan kamu juga. Jadi ngapain juga kita ikutan ribet?

 

Itu tadi beberapa kecenderungan cowok yang termasuk toxic masculinity. Pengen terlihat maskulin sih boleh saja kalau memang itu identitas kamu, tapi nggak perlu ngasih kesan buruk ke orang lain juga ‘kan? Lagian, kalau dipikir lebih dalam, kecenderungan-kecenderungan dan peran gender yang ketat di atas itu nggak make sense; perempuan dan laki-laki sama-sama manusia, kok!

Buat kamu yang ngerasa punya kecenderungan di atas, lebih baik pelan-pelan dihilangkan. Ingetin juga orang-orang di sekitarmu yang menunjukkan toxic masculinity kayak gini, karena seperti yang tadi DGZ jelaskan, masyarakat secara umum turut andil dalam membentuk sikap-sikap toxic masculinity ini. Yuk, kita sama-sama buat masyarakat yang lebih adil dan setara, untuk kebaikkan perempuan maupun laki-laki. 

  • 5.1K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya