Permasalahan Jogja saat ini nggak cuma sekadar UMR yang masih segitu-gitu aja. Sekarang lagi ada teror keamanan yang tengah menyerang warga kota pelajar ini. Istilah lokalnya “Klitih”. Fenomena klitih ini bikin Jogja jadi nggak tenang. Harus selalu waspada tiap ingin keluar di malam hari. 

Para pelaku klitih umumnya keluar di malam hari dengan mengendarai sepeda motor. Mereka membawa berbagai macam senjata. Mulai dari senjata tajam, kayu, rantai, dan lain sebagainya untuk menyerang korban yang tengah melintas di jalanan. 

Korbannya beneran random alias acak. Nggak ada target spesifiknya sama sekali. Pun demikian dengan motif mereka. Ketika biasanya penyerangan bermotif dendam atau dengan niat jahat lain, niatnya pelaku klitih nggak kayak gitu. Menurut penuturan Wakapolda DIY, para pelaku klitih nggak punya motif spesifik.

Pelakunya masih berumur belasan tahun

Fenomena mencekam ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Namun karena pengaruh media sosial, tagar #DIYDaruratKlitih saat ini tengah jadi trending topic di media sosial. Beragam postingan tersebar di Twitter dan grup WhatsApp. Mulai dari foto-foto korban, list kawasan rawan, sampai video pelaku yang tertangkap dan habis dikeroyok warga.

Yang bikin kasus klitih saat ini jadi ramai di media adalah karena rata-rata usia pelakunya yang masih remaja tanggung. Para pelaku yang tertangkap oleh pihak berwajib banyak yang masih berusia sekolah. Ada yang SMA, SMP, dan bahkan ada juga pelaku yang masih duduk di kelas 6 SD.

Tapi kenapa ya kok remaja bisa senekat itu?

Kalau ditanya alasan, eksistensi jadi salah satu alasan utama para pelajar melakukan aksi teror klitih. Para pelaku ingin meningkatkan reputasinya dalam lingkaran geng mereka. Nah syarat yang diberikan agar mereka diakui adalah bisa melukai orang lain dengan senjata tajam. Kalau bisa melukai orang, mereka akan diakui oleh gengnya. “Kalau sampai masuk berita dan videonya tersebar di media sosial, mereka makin bangga,” ujar Sosiolog Kriminalitas dari UGM, Soeprapto.  

Selain karena butuh pengakuan, faktor ketidaktakutan terhadap hukum juga jadi alasan kenapa beberapa remaja bisa nekat menyerang orang lain secara random. “Dulu, anak gengku bilang kalau aku nggak akan dihukum dengan berat misal ketangkep karena masih usia remaja,” ujar Heru (nama samaran), salah satu mantan pelaku klitih Jogja. Padahal bukan cuma hukuman pidana yang harus ditakuti. Ada banyak risiko lain kalau melakukan penyerangan kepada orang lain. Bisa jadi dianya yang terluka, tertangkap, dihakimi massa, sampai risiko lainnya.

 Menurut Heru, menjadi pelaku kekerasan seperti klitih dengan niat ingin mendapat pengakuan sebenarnya nggak ada manfaatnya. Boro-boro dapat pengakuan kalau “kamu hebat”, yang ada justru dia sudah beberapa kali masuk penjara karena tertangkap pihak berwajib. Akibatnya, dia dikeluarkan dari sekolah dan susah untuk dapat pergaulan yang sehat. Butuh waktu lama baginya untuk bisa kembali ke kehidupan yang tenang.

Ingat, pengakuan yang sebenarnya datang dari diri sendiri. Karena itu kita nggak perlu susah-susah mencari validasi dan pengakuan dari orang lain. Kita sendiri yang akan susah kalau nyari validasi dari orang. Sebagai remaja dan mahkluk sosial, kita memang punya dorongan yang kuat untuk diakui dan berada dalam kelompok atau geng. Maka dari itu kita perlu lebih selektif dan ekstra hati-hati lagi dalam memilih teman dekat. Ingat, teman yang baik nggak akan memaksa kamu untuk melakukan hal yang bisa berbahaya bagi dirimu atau diri orang lain. Semoga kita nggak terjerumus dalam hal-hal kayak gini yaa…

  • 69
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya