Beragam kisah sedih datang di masa pandemi seperti ini. Salah satunya yang sempat viral beberapa waktu. Ketika jenazah seorang perawat korban COVID-19 ditolak pemakamannya oleh oknum warga akibat stigma sosial ketika hendak dimakamkan.

Kejadian seperti ini tentu mengiris hati nurani. Bagaimana tidak, minimnya kemampuan mengelola informasi seputar penanganan wabah COVID-19 yang benar, menimbulkan kecemasan berlebih pada masyarakat. Akibatnya membuat banyak pihak memiliki stigma atau pandangan buruk. Serta ketakutan yang berlebihan kepada para korban termasuk tenaga medis tanpa dasar yang valid.

Stigma merugikan banyak pihak

Ilustrasi korban stigma sosial

Ilustrasi korban stigma sosial

Dari kasus tadi saja misalnya, jika kita paham atau setidaknya membaca peraturan pemerintah mengenai penanggulangan jenazah korban COVID-19, pasti tidak akan khawatir. Apalagi sampai melakukan aksi penolakan pemakaman. Jenazah korban COVID-19 akan dimakamkan sesuai dengan prosedurnya. Jenazah akan dibungkus berlapis setelah kain kafan, lalu dimasukan dalam kantong jenazah dan peti. Selain itu virus dalam tubuh jenazah juga akan mati dalam waktu tujuh jam setelah pasien meninggal. Terlebih hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa jenazah bisa menularkan COVID-19 selama pemakaman dilakukan sesuai prosedur. Ketidaktahuan masyarakat mengenai informasi seperti inilah yang menimbulkan stigma, serta merugikan banyak pihak.

Bila stigma sosial terus terjadi dampaknya bisa meluas. Misalnya, orang yang terkena COVID-19 akan menyembunyikan keadaannya karena takut didiskriminasi. Stigma juga bisa mencegah orang untuk segera berobat ke rumah sakit karena takut dinilai negatif oleh masyarakat. Yang pasti stigma sangat merugikan baik bagi yang sakit maupun yang sehat. Dampak paling nyata adalah ketika keluarga hendak memakamkan jenazah korban COVID-19 yang ditolak warga. Belum lagi tiga orang yang diusir dari rumah kost mereka karena bekerja sebagai perawat COVID-19 di sebuah rumah sakit di Solo.

Konsumsi sumber informasi yang kredibel

Konsumsi sumber berita yang kredibel

Konsumsi sumber berita yang kredibel

Sebagai Gen Z, kita harus melek informasi dengan banyak membaca dan cross check seputar pemberitaan terutama yang berkaitan dengan COVID-19. Di zaman serba digital seperti sekarang, sudah banyak referensi yang bisa kita dapatkan di internet. Sebarkan atau share informasi valid hanya dari website terpercaya seperti covid19.co.id, kominfo, BNPB, dan portal berita yang kredibel.

Menyebarkan informasi soal penularan COVID-19 yang benar, dilakukan agar orang dengan stigma lebih memahami dengan baik. Oiya memberi pengertian tanpa menimbulkan ketakutan juga bisa jadi cara jitu melawan stigma.

Kenapa ini penting? Selain agar bisa membesarkan hati tenaga medis yang telah berjuang, meningkatkan empati masyarakat juga bisa jadi cara untuk melawan stigma sosial. Supaya baik mereka yang sudah atau belum tertular, tidak merasa malu untuk melakukan upaya lebih preventif. Plus nggak ada lagi diskriminasi dari masyarakat sekitar. Inget siapa saja bisa tertular tapi semua orang bisa berjuang bersama!

  • 3
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya