Namanya pindah kota dan bertemu dengan orang-orang baru itu pasti butuh penyesuaian. Apalagi kalau kamu baru berusia remaja dan pindah ke lingkungan baru itu sendirian. Aku pernah mengalaminya. Waktu itu usiaku baru 15 tahun tapi harus masuk asrama karena suatu alasan.

Tapi anehnya aku sama sekali tak pernah merasa bahwa nasibku sial. Malah aku bersyukur bisa masuk asrama. Di sana aku bisa bertemu banyak orang baru dengan budaya yang berbeda-beda.

Awalnya awkward dan merasa aneh. Beda banget sama yang biasa kulakukan

“Ini orang ngapain sih?”

Itu yang pernah saya pikirkan ketika pertama kali melihat rutinitas pagi salah seorang teman yang berasal dari etnis beda daerah dariku. Meskipun agama kami sama, tapi rutinitas ibadah kami ada sedikit perbedaan. Awalnya aku jelas merasa aneh. Lha wong ibadah yang selama ini kujalani nggak kayak gitu.

Namun lambat laun aku merasa bahwa pendapat “Saya yang pasti benar” itu ternyata kurang tepat. Selama hidup di asrama, aku beberapa kali berdiskusi dengan temanku ini. Dia menjelaskan kenapa ibadahnya beda denganku dan akupun menjelaskan ibadah yang versiku. Dari situ kami jadi semakin mengenal perbedaan kami. Namun, hal itu nggak bikin kami jadi saling anti. Justru diskusi itu malah bikin kamu saling toleransi.

Itu baru dengan orang yang agamanya sama. Belum lagi pertemuan-pertemuan lainnya dengan orang-orang yang benar-benar berbeda karakter dan latar belakang yang membuatku mengernyitkan dahi. Aku memandangnya bukan sebagai perbedaan, namun sebagai pelajaran untuk jadi lebih toleransi terhadap sesama.

Nggak ada lagi beda suku dan ras, asrama bikin semuanya lebur jadi satu

Ujaran-ujaran rasial yang tengah terjadi di negara kita kayak politik adu domba yang dulu diterapkan sama penjajah. Menanamkan pola pikir “Aku” dan “Mereka” membuat kita nggak akan pernah bersatu. Ya gimana mau bersatu wong perspektifnya aja berbeda. Ibarat pacaran, kalau kamu dan pasangan nggak mau menyamakan perspektif tentu hubungan kalian bakal dipenuhi pertengkaran.

Realita rasisme yang ada di Indonesia sekarang jauh berbeda dengan hal-hal yang pernah saya pelajari di asrama selama 4 tahun itu. Dulu, perbedaan yang kutemui berarti hal-hal baru untuk dipelajari dan dihormati. Saling menghormati itu bikin kami semua lebur jadi satu terlepas apapun latar belakangnya. Sekarang, perbedaan yang ada jadi kayak momok yang ditakuti dan dijauhi. 🙁

Padahal menjauhi dan melabeli perbedaan nggak akan menyelesaikan masalah

Selepas lulus dari asrama, saya kerap mendengar orang-orang bilang “Eh, orang-orang dari suku bau ya? Kayak nggak pernah mandi gitu” Nah sebagai seseorang yang juga pernah hidup dengan teman-teman dari daerah yang dimaksud, saya ke-trigger nih. Anggapan seperti itu kan nggak ada dasarnya. Kalau ada etnis tertentu dibilang “bau” karena jarang mandi, lha itu mah semua orang juga bakal bau kalau jarang mandi tanpa peduli dari mana asalnya keleus. Contoh lain seperti melabeli teman-teman dari etnis lain sebagai etnis yang gampang emosi, lelet, pelit, dan sebagainya itu juga salah. Ya itu mah karakteristik personal yang beda-beda. Bukan etnisnya. Toh perbedaan itu bukan untuk ditakuti dan dijauhi.

Sejak kecil kita (atau mungkin cuma saya?) diajarkan untuk menyikapi perbedaan dengan kepala dingin. Ngobrol. Saling membuka pikiran dan nggak menuduh tanpa dasar. Di asrama sudah nggak kehitung lagi perbedaan yang pernah saya temui. Mulai dari beda ras, beda budaya, sampai beda sudut pandang. Tapi toh semua bisa diselesaikan dengan berdialog satu sama lain biar kita jadi lebih mengerti perspektif orang lain.

 

Aku pribadi memandang asrama sebagai mini Indonesia yang sebenarnya. Di sana saya menemukan berbagai macam karakter yang berbeda-beda. Namun kami bisa menghilangkan perbedaan itu dengan berdiskusi dan saling membuka pikiran. Aku pribadi berharap kalau orang-orang Indonesia bisa belajar dari pengalamanku hidup di asrama. Biar kita nggak jadi negara yang melabeli orang lain dengan “aku” dan “mereka”. Hmm.. Apa perlu nih orang-orang yang masih sering membedakan rasialis ini dimasukin ke asrama. Biar mereka lebih belajar toleransi gitu… Hehe

  • 5.5K
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya