Bertemu teman atau sahabat yang sudah lama sekali tidak bertemu menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan. Alih-alih sekedar menyapa dan menanyakan kabar, namun keduanya tidak menjawab rasa penasaranmu terhadap kehidupan yang sedang dijalankannya. Namanya juga teman lama, pasti kamu ingin tahu kan hal apa saja yang telah dilaluinya. 

Walaupun terdengar seperti basa-basi, namun tetap saja untuk memulai sebuah obrolan menjadi hal yang canggung, bukan? Untuk itu penting sekali memiliki selera humor untuk mencairkan suasana. Tapi tak jarang basa-basi kita malah jadi basi.

Memang sih, humor memainkan peran yang begitu besar dalam memperkuat ikatan sosial antara kamu dengan teman atau sahabat. Sayangnya tidak semua humor yang kamu lontarkan menjadi hal yang lucu. Salah satunya dengan humor yang berbau seks dan merendahkan peran gender.

Hayo, siapa disini yang suka basa basi? | Photo by cottonbro via www.pexels.com

Emangnya, humor seksis itu yang seperti apa sih? 

Sobat GenZ, sudah tahu belum istilah humor seksis atau sexist jokes? Bukan hanya di media sosial saja, tetapi hal ini kerap ditemukan saat sedang asik mengobrol bersama teman atau sahabat, baik laki-laki maupun perempuan. Meskipun perempuan lebih rentan untuk mengalaminya. 

Humor ini seringkali menjadikan bentuk tubuh, warna kulit, dan hal yang berbau seksual menjadi bahan candaan yang dapat menyinggung, merendahkan, atau memberikan stereotip terhadap gender.

Mungkin kamu familiar dengan candaan di bawah ini?

“Bawel banget sih lu jadi cewek mentang-mentang mulutnya dua”

“Cantik amat hari ini, biasa juga di dapur”

“Ada yang bulat tapi bukan tekat”

Dari kata-kata yang kamu anggap sebagai candaan seperti ini, bisa saja menyinggung perasaan seseorang loh.

Pasti kamu tau kan slogan dari Joker | Photo by christian diokno via www.pexels.com

Tolong, jangan anggap hal ini sepele

Uang seribu yang kurang seratus perak pun menjadi kurang nilainya. Sama halnya dengan kata-kata yang kamu anggap sepele bisa mencerminkan sikapmu. Mungkin niatmu baik untuk mencairkan suasana. Tetapi bila humor yang kamu lontarkan berbau seksual dan merendahkan gender, lebih baik dianggap formal dan baku saja deh dari pada harus memaksakan diri untuk lucu.

Mungkin hari ini kamu anggap sepele, tapi bayangkan bila ada ribuan orang melakukan hal yang sama dengan melontarkan humor seksis. Tentu hal ini akan menjadi kebiasaan dan melahirkan sebuah stigma terhadap perempuan. Bayangkan juga perasaan orang-orang yang kamu jadikan target. Kamu mungkin akan lupa, tapi bisa jadi membekas selamanya lho di hati orang yang kamu ajak bicara.

 

Sobat GenZ, seperti pesan ibu yang sering diulang-ulang, berpikir dahulu ya sebelum berbicara. Setelah kamu memahami seputar humor seksis atau sexist jokes, tolong jangan ada lagi ya bercandaan yang berbau seksual dan merendahkan gender. Baik kamu laki-laki ataupun perempuan, yuk kita sama-sama menciptakan suasana positif satu sama lain. 

 

Referensi:

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya