Sejak COVID-19 mewabah, tidak dapat dipungkiri jika saat ini jadi masa-masa yang berpotensi membuat stres buat para remaja. Masa yang seharusnya jadi momen paling mengesankan selama jadi anak sekolahan, terpaksa berubah kondisinya. Tiba-tiba sekolah diliburkan, berbagai media diwarnai pemberitaan tentang peningkatan jumlah orang yang terinfeksi, belum lagi info hoaks yang beredar di grup-grup percakapan. Hal-hal seperti ini pasti sedikit banyak memengaruhi kondisi mental kita. Wajar sih kalau kita merasa panik dan cemas. Tapi seluruh dunia juga tengah mengalami wabah yang sama, artinya kamu nggak sendirian kok.

Eits meskipun ini adalah masa yang sulit tapi kamu nggak boleh down dan terus-menerus nggak semangat. Kamu harus kuat dan sehat agar bisa menang melawan ini semua, misalnya dengan mengelola kepanikan dan kecemasan secara benar supaya nggak stres terus psikosomatis deh. Nah Dokter Gen Z sudah merangkumkan beberapa tips nih buat bantu kamu mengelola perasaan-perasaan negatif yang bisa bikin kamu stres. Simak selengkapnya ya…

Sadari bahwa kondisi kecemasan ini adalah hal yang wajar terjadi

Mencoba memahami bahwa kecemasa saat pandemi ini adalah hal yang wajar.

Wabah COVID-19 yang pertama kali diketahui muncul di Wuhan, nyatanya juga dialami di berbagai negara di dunia. Salah satunya Indonesia. Jumlah orang yang terinfeksi COVID-19 ini cukup banyak dan penularannya sangat cepat. Terang saja  membuat perasaan khawatir buat siapa saja. Dan hal itu wajar saja sesungguhnya. Siapa sih yang nggak khawatir dengan adanya wabah penyakit yang menyebar dengan cepat ke banyak tempat? Tapi meskipun demikian, kamu harus tahu bahwa kamu tidak sendiri. Kita semua sama-sama berjuang untuk melawan penyebaran virus Corona ini. Makanya, peran serta kamu sangat dibutuhkan, mulai dari menjaga diri di rumaha aja, mencuci tangan setelah memegang benda umum, dan menjaga kesehatan mental dari perasaan negatif yang berlebihan.

Carilah sumber pengalihan dari stres atau distraksi

Membaca buku sebelum tidur dapat membuat lebih rileks.

Menurut psikolog klinis Lisa Damour kepada UNICEF, ketika berada di masa sulit seperti di saat pandemi ini, remaja harus mencoba memahami masalah ke dalam dua kategori: hal-hal yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan.

Pandemi ini termasuk pada kategori hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Nah, bagaimana cara menghadapi hal-hal yang tidak dapat dikendalikan? Yakni dengan mencari distraksi atau pengalihan. Menurut Lisa, ada beberapa cara yang tepat untuk mengalihkan perhatian, bisa dengan mengerjakan tugas sekolah, menonton film, dan membaca novel sebelum tidur. Kamu juga bisa mempertimbangkan beberapa jurus jitu agar #dirumahaja tetap menyenangkan.

Tetap terhubung dengan sahabat-sahabat agar tidak gampang stres

Tetap terhubung dengan teman dapat membantu kamu mengurangi perasaan negatif.

Masih menurut psikolog klinis Lisa Damour kepada UNICEF, remaja lebih kreatif dalam menemukan cara agar tetap terhubung dengan teman-temannya. Dan media sosial merupakan saluran yang tepat di masa physical distancing ini. Lihat saja selama dua bulan himbauan jaga jarak dilaksanakan, sudah banyak sekali cara-cara berinteraksi jarak jauh yang trending. Mulai dari melakukan video conference, melakukan beberapa tantangan seperti pass the brush atau tantangan yang kemudian diunggah media sosial Tiktok.

Namun Lisa menegaskan, bahwa mengakses smartphone atau gawai lainya dengan waktu yang lama bukan hal yang bijaksana, malah akan menambah kecemasan. Jadi kamu perlu mempertimbangkan pembatasan waktu bermedia sosial atau screen time, agar tidak menambah kecemasan atau perasaan negatif lainnya.

Konsumsi berita dari sumber terpercaya

Berhati-hati mengonsumsi informasi yang tidak terverifikasi dengan jelas.
Berhati-hati mengonsumsi informasi yang tidak terverifikasi dengan jelas.

Menerima berbagai informasi mengenai COVID-19 dari grup-grup percakapan memang bukan hal yang bisa kita hindari. Apalagi informasi yang beredar belum tentu terverifikasi dengan benar. Memilih sumber informasi jadi hal yang penting sekali di masa ini, agar terhindar dari berita hoaks yang makin membuat cemas. Beberapa sumber informasi yang bisa jadi rujukan misalnya covid19.go.id, www.who.int, dan tentu saja Dokter Gen Z.

Kehati-hatian dalam akses berita sangat diperlukan. Selain menghindarkan dari berita bohong yang mencemaskan, informasi yang benar akan memberikan kita rasa tenang bagi diri sendiri dan juga orang-orang terdekat. Dengan mengetahui berita yang kredibel dan valid, kamu bisa jadi agen hoax buster juga lho.

Bicarakan perasaan kamu kalau sudah merasa tidak sanggup

Mencoba untuk mencari bantuan ke psikolog kalau merasa kesehatan mental terganggu akibat pandemi.
Mencari bantuan ke psikolog adalah tindakan yang tepat jika merasa sudah tidak nyaman akibat pandemi.

Ketika berbagai cara sudah dilakukan namun kecemasan makin dirasa meningkat, berbicara atau berkonsultasi dengan ahli bisa dipertimbangkan. Salah satunya layanan telemedis Dokter Gen Z yang bekerja sama dengan Halodoc. Layanan ini menyediakan jasa konsultasi yang bisa kamu akses melalui chat pada website dan direct message via media sosial. Beberapa dokter juga membuka layanan konsultasi melalui akun media sosial mereka. Berikut daftar dokter yang memberikan layanan ini.

Nah itu dia beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengelola stres di masa pandemi COVID-19 ini. Perasaan cemas dan takut itu wajar, yang harus diwaspadai adalah ketika perasaan negatif itu berlebihan dan mengganggu aktivitas kamu. Tetap tenang dan ketahui bahwa kita akan melewati ini bersama. Cheers!

  • 203
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya