Sobat GenZ, siapa nih yang sedang merasakan indahnya punya pacar? Punya banyak momen indah, punya temen curhat, dan bikin nyaman pastinya. Tapi tahu nggak sih? Ternyata di balik romantisme pacaran terkadang banyak orang yang tidak menyadari kalau hubungan mereka sudah menjadi beracun atau toxic. Komnas Perempuan mencatat setidaknya ada 2073 kasus terkait kekerasan dalam pacaran pada tahun 2018. Supaya kita nggak tertipu keindahan yang semu, yuk kita belajar bareng soal toxic relationship. 

Jadi, toxic relationship ini istilah untuk menggambarkan hubungan yang tidak sehat dan merugikan salah satu pihak karena bisa berdampak pada kesehatan baik fisik atau mental. Bukan hanya dalam hubungan pacaran, racun ini juga bisa ada dalam hubungan lain seperti pertemanan atau orang tua. Tapi kali ini kita akan membahas toxic relationship dalam pacaran. Berikut tanda-tandanya.

Ketika si doi mulai toxic | Photo by Pixabay from Pexels

Perubahan sikap yang tiba-tiba

Perubahan ini dalam konteks yang negatif ya, yaitu perubahan-perubahan yang membuat pasangannya tidak nyaman. Contohnya sikap pasangan yang terlalu memaksa untuk melakukan hal tertentu padahal pada awalnya dia tidak berlaku demikian. Sudah harus masuk siaga satu nih kalau ada teriakan bahkan ancaman. Kalau kamu mengamati perubahan negatif ini pada pasangan kamu,  harus mulai berhati-hati dan coba ajak pasangan untuk berdiskusi ya.

Posesif

Ada yang sering mendapat pesan dari pasangan yang terlalu banyak bertanya? “Sayang lagi dimana?”, “Sama siapa?”, “Harus banget ya ketemu dia?”, “Aku nggak suka ya kalau kamu mulai banyak kegiatan dan cuekin aku”, atau bahkan sampai ditelepon berkali-kali kalau telat membalas pesan. Ingin tahu itu wajar, namun segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Begitu juga dengan cemburu dan curiga. Mungkin selama ini yang beredar di media sosial adalah cemburu tanda cinta. Tapi kalau cemburu yang berlebihan sampai menuduh, mengatur dengan siapa kita boleh atau tidak boleh bertemu, yakinlah kalau pasanganmu sudah jadi posesif. Harus mulai diobrolin yah kalau mulai muncul benih-benih posesif antara kamu dan pasangan. 

Sulit untuk menjadi diri sendiri

Orang yang terlalu sering dikontrol oleh orang lain bisa menjadi lupa pada diri sendiri. Karena apa yang dilakukan bukan atas kehendaknya, melainkan ‘disetir’ atau ‘dikontrol’ oleh orang lain. Alasan klasik untuk seseorang yang mengontrol pasangannya adalah karena alasan sayang. Tapi kalau sampai membuat kita tidak nyaman, yakin itu namanya sayang?

Pembunuhan karakter secara halus

Cara paling mudah untuk membunuh karakter seseorang adalah dengan meremehkannya. Ucapan pasangan yang kasar juga termasuk salah satunya. Contohnya jika seseorang melakukan kesalahan,  pasangannya akan mengumpat dan menghina. Bisa juga seseorang direndahkan karena apa yang dilakukannya dianggap tidak berarti atau tidak berhasil.

Melakukan kekerasan

Sobat GenZ, pasangan kalau sudah ‘main tangan’ atau melakukan kekerasan, sudah pasti hubungan yang kalian jalankan itu tidak sehat ya. Alasan sayang tidak bisa dan tidak boleh dijadikan pembenaran terhadap kekerasan. Kekerasan ini bukan hanya kekerasan fisik, tetapi termasuk juga kekerasan psikis (contoh: meremehkan pasangan, merendahkan pasangan).

 

Kalau sudah ada tanda-tanda di atas yang muncul dalam hubungan kamu, segera komunikasikan dengan pasangan. Jika kamu takut, kamu bisa meminta temanmu yang kamu percaya untuk menjadi perantara. Ingat! Kesehatan dan kebahagiaanmu adalah yang utama. Jika memang menjalin hubungan membuat kamu tidak nyaman dan tersakiti, jadi jomblo juga bukan aib kok! Pikirkan matang-matang sebelum memutuskan untuk berkomitmen dengan seseorang.

 

Referensi : 

  • 3
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya