“Minta link-nya gan!”

“Link pemersatu bangsa!”

Apakah Sobat Gen Z pernah melihat komentar-komentar di dalam suatu unggahan? Biasanya link tersebut merujuk pada gambar ataupun video yang mengandung konten seksual. Tapi pernah terbayangkan nggak kalau bisa jadi orang-orang yang terlibat dalam konten digital tersebut tidak setuju untuk menyebarkannya? Itu bisa jadi termasuk konten revenge porn.

Revenge porn atau pornografi balas dendam adalah fenomena yang relatif berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kemajuan teknologi ponsel cerdas, kamera, komputer, dan media sosial turut mendorong maraknya fenomena ini. Revenge porn melibatkan pengunggahan gambar/video telanjang atau setengah telanjang seseorang di situs internet tanpa persetujuan si pemilik tubuh, seringkali sebagai aksi balas dendam ketika hubungan berakhir. 

Komnas Perempuan menyebutkan bahwa pada tahun 2019 terdapat 25 kasus jenis kekerasan ‘malicious distribution’, yakni penyebaran materi digital termasuk konten pornografi yang berpotensi merusak reputasi penyintas termasuk revenge porn. Konten-konten pornografi kerap digunakan untuk menyerang perempuan dan menghancurkan kehidupan dan karier perempuan secara digital.

Revenge porn menyebar cepat | credit: Deposit Photos via id.depositphotos.com

Ada tiga forum yang biasa digunakan untuk membagikan konten revenge porn:

  • Situs media sosial
  • Situs web dan forum porno yang khusus mengunggah revenge porn
  • Melalui email atau chat kepada penyintas dan pihak-pihak lainnya

Berawal dari sexting

Sexting yang ‘bocor’ | Photo by Jonah Pettrich on Unsplash

Revenge porn seringkali diawali dengan sexting. Sexting adalah tindakan mengirimkan pesan, foto, atau video seksual melalui ponsel, komputer, atau perangkat digital apa pun. Ini juga mencakup pesan teks yang berisi diskusi atau ajakan  melakukan aktivitas seksual.  Tidak ada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan dalam frekuensi melakukan sexting. Namun, laki-laki lebih cenderung memiliki perasaan positif terhadap sexting, sedangkan perempuan lebih cenderung merasa berhati-hati dan cemas tentang sexting.

Sexting bisa jadi dilakukan dengan persetujuan dari kedua pihak. Namun, ketika konten seksual tersebut dibagikan secara online tanpa izin salah satu pihak, hal tersebut bisa digolongkan sebagai revenge porn.

Dampak revenge porn

Revenge porn seringkali berdampak negatif pada kesehatan mental. Dampak yang mungkin dialami oleh penyintas antara lain adalah:

  1. Rasa malu, terhina, dan menyalahkan diri sendiri
  2. Efek kesehatan mental seperti trauma, depresi, dan kecemasan
  3. Kesulitan menemukan pasangan baru
  4. Kehilangan pekerjaan atau kesulitan menemukan pekerjaan baru
  5. Pelecehan dan penguntitan di dunia nyata
  6. Penyalahgunaan obat-obatan

Dampaknya kemana-mana | Photo by Callie Gibson on Unsplash

Dampak-dampak di atas tak jauh dari akibat jejak digital. Seperti halnya cyberbullying, revenge porn juga meninggalkan jejak digital di internet. Setelah foto diunggah di internet, maka akan sulit menghapusnya. Berbagai aspek kehidupan penyintas dapat terdampak karena kemungkinan orang yang mengenalnya atau akan mempekerjakannya melihat revenge porn di internet dan berimplikasi pada kesejahteraan hidupnya. Maka dari itu, dalam upaya mengurangi dampak berkelanjutan dari revenge porn, tak jarang orang yang menjadi korban terpaksa untuk menutup akun media sosialnya atau berganti dengan identitas baru. 

Selain didorong oleh jejak digital, masalah kesehatan mental pada seseorang yang mengalami revenge porn dapat didorong oleh respons masyarakat dan penegak hukum. Menceritakan revenge porn kepada orang lain membuat khawatir karena stigma masyarakat terhadap penyintas revenge porn. Stigma ini lebih berat jika yang mengalami adalah perempuan. Tak jarang juga mereka takut untuk melapor ke polisi ketika pelakunya adalah seseorang yang mereka kenal. Mereka khawatir laporannya tidak dipercaya karena dianggap melakukannya atas dasar suka sama suka.

 

Nah, setelah tahu mengenai apa itu revenge porn, harapannya kamu bisa jadi lebih waspada yah agar kamu atau teman kamu tidak mengalaminya. Kita perlu bijak ketika melakukan aktivitas melalui teknologi digital. Jangan lupa bangun komunikasi yang sehat dalam hubungan sehingga tidak ada kekerasan di dalamnya. Dan tentunya jika kamu menemukan konten revenge porn di media sosial, stop di kamu dan laporkan untuk memberhentikan penyebarannya.

Referensi:

  • Bates, S. (2017). Revenge porn and mental health: A qualitative analysis of the mental health effects of revenge porn on female survivors. Feminist Criminology, 12(1), 22-42.
  • Samimi, P., & Alderson, K. (2014). Sexting among undergraduate students. Computers in Human Behavior, 31, 230-241.
  • Komnas Perempuan. (2019). Catatan Tahunan Komnas Perempuan
  • Very Well Family. (2020). Why Is Sexting a Problem for Teens? 
  • Get Safe Online. Revenge Porn. 
  • 36
    Shares

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya